:: MENIKAH :: Kumpulan Hadits Rasulullah SAW

Julai 29, 2009

Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada halangan bagi seorang mukmin untuk membangun rumah tangga, karena Allah memberi rizki setiap makhluk hidup yang ada di bumi dengan Lailaha illallah.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang menikah, ia telah menjaga separuh agamanya. Maka takutlah kepada Allah dalam separuh sisanya.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada bangunan di dalam Islam yang lebih dicintai oleh Allah daripada pernikahan.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mencintai fitrahku, maka hendaknya ia mengikuti sunnahku dan di antara sunnahku adalah menikah.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang telah mampu menikah lalu tidak menikah, maka ia bukan golonganku.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Datangkan rizki melalui pernikahan.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Barangsiapa yang tidak menikah karena takut pada kefakiran, maka ia telah berburuk sangka kepada Tuhannya, karena Allah swt berfirman: ‘Jika kamu fakir, aku akan mencukupinya dari karunia-Nya (An-Nur: 32)’.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Wahai pemuda, menikahlah dan jauhi perzinaan. Sesungguhnya zina itu mencabut keimanan dari hatimu.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Nikahi perempuan, karena sesungguhnya mereka datang bersama harta.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
“Syafaat yang paling utama adalah saling memberi syafaat antara pasangan suami-isteri sehingga Allah menghimpun diantara keduanya.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Hendaknya kamu menikah, karena denganmu umatku bertambah banyak pada hari kiamat, sehingga anak yang keguguran ia akan datang menunggu di pintu surga. Lalu dikatakan kepadanya: masuklah ke surga. Ia menjawab: Tidak, sehingga kedua orang tuaku masuk ke surga sebelumku.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Dua rakaat shalat yang dilakukan oleh orang yang menikah lebih utama dari shalat yang dilakukan orang yang bujangan dalam qiyamul layl dan puasa di siang harinya.” (Makarimul Akhlaq: 197)

Rasulullah saw bersabda:
“Mayitmu yang paling hina adalah mayit yang bujang.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Wahai kaum muda, barangsiapa yang punya kemampuan untuk menikah, maka menikahlah, Karena dengan menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya rajin berpuasa, karena hal itu dapat mengurangi nafsu birahi.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Dua rakaat shalat yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah lebih utama dari tujuh puluh rakaat shalat yang dilakukan oleh orang bujangan.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Seorang yang semakin cinta pada isterinya, maka semakin utama imannya.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Perbanyaklah kebaikan melalui isteri.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Nikahlah dan jangan mentalak, karena sesungguhnya talak menggoncangkan arasy.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Nikahlah dan jangan mencerai, karena sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang banyak menikah dan banyak mencerai.” (Makarimul Akhlaq: 196)

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang ingin menjumpai Allah dalam keadaan suci dan disucikan, maka hendaknya ia menjumpai-Nya dengan isteri yang sholehah.” (Makarimul Akhlaq: 197)

Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata:
“Barangsiapa yang menikah karena Allah azza wa jalla dan untuk menyambung keluarga, ia akan menghadap Allah dengan mahkota kerajaan.” (Makarimul Akhlaq: 198)

Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang diberi kemudadahan dan belum juga menikah, maka ia bukan golonganku.” (Makarimul Akhlaq: 198)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Barangsiapa yang melangsungkan akad nikah ketika bulan berada di bintang ‘aqrab (scorpio), maka ia tidak akan melihat kebaikan.” Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Makruh hukumnya melangsungkan akad nikah hari Mahaq. “(Makarimul Akhlaq: 198)
Hari Mahaq adalah tgl 29 dan 30 hijriyah.

Rasulullah saw bersabda:
“Perempuan yang paling utama dari umatku adalah yang paling bagus wajahnya dan paling sedikit maharnya.” (Makarimul Akhlaq: 198)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Diantara keberkahan perempuan adalah yang sedikit maharnya dan memudahkan kelahirannya. Dan kesialan perempuan adalah yang memberatkan maharnya dan menyulitkan kelahirannya.” (Makarimul Akhlaq: 198)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Kesialan terdapat dalam tiga sesuatu: kendaraan, perempuan, dan rumah. Kesialan perempuan adalah yang mahal maharnya, dan sulit klahirannya. Kesialan kendaraan adalah sedikit tali kendalinya dan buruk bentuknya. Adapun kesialan rumah adalah kesempitannya, keburukan tetangganya.” (Makarimul Akhlaq: 198)

Rasulullah saw bersabda:
“Menikahlah niscaya kamu akan mendapatkan rizki, karena sesungguhnya pada perempuan ada keberkahan.” (Makarimul Akhlaq: 198)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Kesialan itu terdapat pada perempuan, kuda, dan rumah.” (Makarimul Akhlaq: 198)


Anak TIDAK SAH TARAF

Julai 29, 2009

bayi-from-god1

Anak luar nikah juga dipanggil sebagai anak tak sah taraf. Ia boleh didefinisikan sebagai anak yang telah dilahirkan di luar nikah dan bukan anak daripada persetubuhan syubhah, iaitu persetubuhan yang sah dari segi akad nikah.

Walaupun begitu, zuriat yang dilahirkan di luar ikatan perkahwinan yang sah adalah suci daripada dosa seperti bayi lain. Ini kerana tidak ada anak yang dilahirkan ke dunia ini berstatus haram.

Ini berlainan daripada anggapan masyarakat kita yang seolah-olah memandang rendah kepada anak ini. Bukan salah anak tersebut kerana dilahirkan di dalam keadaan begitu. Oleh itu haruslah prihatin mengenai perkara ini.

Kita boleh merujuk kepada hadis yang telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari daripada Abu Hurairah, Rasulullah telah bersabda yang bermaksud:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) dan ibu bapa yang mencorakkan kehidupan mereka sama ada menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.”

anak-islam-2

Tanggapan masyarakat yang mempunyai pengetahuan yang cetek, sentiasa menyebabkan timbulnya tanggapan buruk bahawa anak itu tidak suci. Jika kita lihat hadis tersebut ternyata bahwa anak itu adalah suci.

Ibu bapa yang akan bertanggungjawab untuk menjaga dan seterusnya membentuk anak tersebut. Walaupun dia lahir bukan di dalam situasi perkahwinan ini tidak mencorakkan kehidupannya.

Oleh yang demikian, mereka mempunyai hak seperti anak-anak lain. Anak tersebut patut dilayan atau dianggap seperti anak kandung sendiri. Dia tidak menanggung dosa ibu bapanya.

Allah sudah menjelaskan dalam firmannya

35_18

yang bermaksud: “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulnya untuknya sedikitpun walaupun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya.” (Surah Faathir Ayat 18).

dogumngsoci

Maka jelaslah kedudukan anak luar nikah itu suci dan begitu juga keturunannya, selagi mereka tidak terbabit dalam perlakuan yang boleh mencemar status mereka sebagai umat yang beriman kepada Allah.

Sesiapa yang beramal soleh akan diberi balasan baik kerana penilaian Allah terhadap hamba-Nya berdasarkan iman serta ketakwaan mereka.

Perlukah anak luar nikah diberitahu mengenai asal-usulnya? Dari perspektif Islam, kesucian anak itu perlu dipelihara dengan sebaiknya kerana mereka tidak bersalah dan mengetahui hal sebenar boleh mendatang kesan tidak baik kepada mereka.

Selain itu, ini adalah untuk mengelakkan daripada menerima hakikat bahawa dirinya adalah anak luar nikah, berdasarkan masyarakat yang akan memberi tekanan apabila mengetahui kisah sebenarnya.

Bagaimanapun, dalam sesetengah kes, anak luar nikah perlu diberitahu perkara sebenar bagi mengelak timbul masalah lain yang lebih besar, terutama dalam hal membabitkan pernikahan serta pemberian harta pusaka.

Jika anak perempuan apabila tiba masa anak itu bernikah, beliau berkemungkinan besar tidak boleh diwalikan oleh bapanya. Tiada masalah perwalian bagi anak lelaki.

anak-pintar

Dari segi perundangan syariah, status anak tersebut akan memberi kesan terhadap pembahagian secara faraid yang dijalankan di negara kita.

Dalam kes ini, anak tak sah taraf bukanlah seorang waris yang tersenarai dalam hukum faraid. Oleh itu anak tersebut tidak akan mendapat pembahagian di bawah faraid.

Maka ibu bapa hanya boleh mewasiatkan harta benda yang nilainya tidak melebihi satu pertiga daripada nilai jumlah keseluruhan harta benda kepada anak tersebut.

Sekiranya harta benda yang diwasiatkan di bawah wasiat tersebut didapati lebih daripada satu pertiga nilai keseluruhan harta benda pemberi wasiat, maka waris-waris yang sah boleh memohon untuk mengeluarkan sebahagian harta benda yang terkandung dalam wasiat tersebut supaya nilai yang diberi tidak melebihi had satu pertiga daripada jumlah harta.

Boleh dilihat di sini bahawa anak tersebut berkemungkinan boleh mendapat pembahagian yang lebih besar daripada adik-beradiknya.

Sekiranya ibu atau bapa tidak ingin memberi wasiat kepada anak tersebut, pemindahan harta benda yang tertentu boleh dilakukan semasa hayat. Proses pemindahan harta benda ini boleh dilakukan dalam beberapa cara.

Contohnya, secara pemindahan harta menerusi prosedur di bawah Kanun Tanah Negara 1965 atau menggunakan hibah atau wakaf.

Perlu diterangkan di sini bahawa tiada halangan bagi bapa untuk bertanggungjawab ke atas anak tersebut dengan menyara perbelanjaan kehidupan anak.

783452355l

Anak itu perlu diberi nafkah yang secukupnya. Tanggungjawab tidak seharusnya berubah hanya kerana anak tersebut tidak dilahirkan di dalam perkahwinan. Bapa tidak seharusnya lepas tangan.


:: HUKUM NIKAH :: WALI HAKIM- Dibolehkan dlm Situasi Tertentu

Julai 29, 2009

wali hakim

Wali hakim bertindak sebagai wali kepada pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali. Menurut Seksyen 2(1) Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan, Wali Hakim bererti wali yang ditauliahkan oleh Yang diPertuan Agong dalam hal Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak atau oleh Raja dalam hal sesuatu negeri lain, untuk mengahwinkan perempuan yang tidak mempunyai wali dari nasab.

Terdapat beberapa situasi di mana wali hakim boleh digunakan;

Pertama: Tidak Ada Wali Nasab.
“Bagi pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali nasab seperti mereka yang baru memeluk Islam dan tiada saudara-maranya yang memeluk Islam, atau perempuan yang tidak mempunyai wali langsung, maka wali hakim yang akan menjadi wali dalam perkahwinannya.”

Rasulullah saw bersabda:
Sultanlah menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali (Riwayat Al-Khamsal).

Kedua: Anak Tidak sah Taraf Atau Anak Angkat.
Anak tidak sah taraf atau anak luar nikah ialah anak yang lahir sebelum adanya perkahwinan yang sah. Sekiranya anak yang tidak sah taraf itu perempuan dan semasa dia berkahwin maka walinya ialah wali hakim. Begitu juga anak angkat. Jika anak angkat itu berasal dari anak tidak sah taraf maka walinya adalah wali hakim kerana anak itu dianggap tidak mempunyai wali nasab.

Sekiranya anak angkat itu berasal dari bapa yang sudah atau keluarga yang sah, maka walinya ialah berdasarkan susunan atau tertib wali yang ada, bukannya bapa angkat.

Ketiga: Wali Yang Ada Tidak Cukup Syarat.
Sekiranya wali aqral: tidak mempunyai cukup syarat untuk menjadi wali maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali Ab’ad mengikut tertib wali.

Syarat-syarat sah menjadi wali ialah:
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal – Orang gila, mabuk dan orang yang sangat bodoh tidak sah menjadi wali.
4. Lelaki
5. Adil
6. Merdeka.

Sekiranya satu-satunya wali yang ada tidak itu tidak juga cukup syarat dan tidak ada lagi wali yang lain, maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali hakim.

Keempat: Wali Aqrab Menunaikan Haji Atau Umrah.
Dalam kitab Minhaj Taibin dalam bab Nikah menyatakan jika wali aqrab menunaikan haji atau umrah atau maka hak walinya terlucut dan hak wali itu juga tidak berpindah kepada wali aqrab tetapi hak wali itu berpindah kepada wali hakim.

Demikian juga sekiranya wali aqrab itu membuat wakalah wali sebelum membuat hajin atau umrah atau semasa ihram maka wakalah wali itu tidak sah. Rasulullah s.a.w. bersabda:

Orang yang ihram haji atau umrah tidak boleh mengahwinkan orang dan juga tidak boleh berkahwin. (Riwayat Muslim).

Oleh yang demikian, jika seseorang perempuan yang hendak berkahwin, hendaklah menunggu sehingga wali itu pulang dari Mekah atau dengan menggunakan wali hakim.

Kelima: Wali Enggan.
Para Fiqaha sependapat bahawa wali tidak boleh enggan untuk menikahkan perempuan yang dalam kewaliannnya, tidak boleh menyakitinya atau melarangnnya berkahwin walhal pilihan perempuan itu memenuhi kehendak syarak.

Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yaser, ia berkata:
“Saya mempunyai saudara perempuan, Ia dipinang oleh seorang pemuda yang mempunyai pertalian darah dengan saya. Saya kahwinkan perempuan itu dengan pemuda tersebut, kemudian diceraikan dengan talak yang boleh dirujuk.”

Perempuan itu ditinggalkan sampai habis idahnya. Tidak berapa lama kemudian, pemuda itu datang lagi untuk meminang, maka saya jawab, :”Demi Allah, saya tidak akan mengahwinkan engkau, dengan dia selama-lamanya.”

Peristiwa ini disampaikan kepada Nabi s.a.w. Berhubung dengan peristiwa ini, Allah s.w.t. menurunkan ayat Al-Quran:

2_232

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kahwin dengan bakal suaminya.” (Al-Baqarah: 232).

Dalam sebuah hadis yang lain dinyatakan:
Ada tiga perkara yang tidak boleh ditangggungkan iaitu: Solat, bila telah datang waktunya, janazah bila telah terlantar dan wanita janda yang telah bertemu jodohnya. (Riwayat At-Timizi dan Hakim).

Oleh yang demikian, perbuatan wali menghalang atau enggan menikahkan wanita tanpa ada alasan syarak adalah dilarang dan dianggap satu tindakan yang zalim kepada wanita itu.

Menurut Jumhur Fuqaha (Shafi’e, Maliki dan Hambali) apabila wali aqrab enggan menikahkan pengantin perempuan, maka wali hakimlah yang menikahkannya. Rasulullah s.a.w bersabda:

Kalau wali-wali itu enggan maka Sultan atau hakim menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali. (Riwayat Abu Daud dan At-Tamizi).

Dalam kes Azizah bte Mat lawan Mat bin salleh (1976, Jld.11.1JH) mengenai wali enggan di Mahkamah Kadi Perlis, Yang Ariff telah memutuskan, perempuan itu berhak mendapat wali Raja atau hakim untuk berkahwin.

Kadi ketika memutuskan kes itu menyatakan:“Berdasarkan kepada hukum syarak, apabila seseorang wali itu tidak mahu mewakilkan nikah anaknya kerana enggan atau berselisih faham, maka bolehlah dinikahkan perempuan itu dengan wali hakim atau wali Raja dengan alasan:

Pertama : Daripada Aishah r.a. Nabi s.a.w tc bersabda:
“Jika mereka berselisih, maka Sultan atau Rajalah wali bagi orang yang tidak ada wali.” (Riwayat Abu Daud, Ahmad dan At-Tamizi).

Kedua: Rasulullah s.a.w. bersabda:
Kalau datang kepadamu lelaki beragama dan berakhlak baik, maka nikahkanlah ia. Jika kamu tidak melakukannya, nescaya akan terjadi fitnah dan kerosakan yang besar.(Riwayat At-Tamizi).

Ini bermakna wali yang enggan menikahkan seseorang perempuan tanpa alasan munasabah mengikut syarak, maka hak wali itu berpindah kepada wali hakim.

walinasab


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.