Berhari Raya Sesuai Rasulullah

September 20, 2009

Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya ‘Iedul Fitri. Wahai pembaca sekalian, ketahuilah bahawa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Ramadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah.

Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:

1. Mandi pada hari raya.

Sa’id bin Al Musayyib berkata: “Sunah hari raya ‘idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.

2. Berhias sebelum berangkat sholat ‘Iedul Fitri.

Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak. Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi.

3. Makan sebelum sholat ‘Iedul Fitri.

“Dari Anas RodhiyAllahu’anhu, ia berkata: Nabi SAW tidak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul fitri hingga makan beberapa kurma.” (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Muhallab berkata bahwa hikmah makan sebelum sholat adalah agar jangan ada yang mengira bahwa harus tetap puasa hingga sholat ‘Ied.

4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pulang dan perginya (HR. Bukhari), diantara hikmahnya adalah agar orang-orang yang lewat di jalan itu bisa memberikan salam kepada orang-orang yang tinggal disekitar jalan yang dilalui tersebut, dan memperlihatkan syi’ar islam.

5. Bertakbir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat menunaikan sholat pada hari raya ‘ied, lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama. Untuk waktu bertakbir saat Idul Fitri menurut pendapat yang paling kuat adalah setelah meninggalkan rumah pada pagi harinya.

6. Sholat ‘Ied.

Hukum sholat ‘ied adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang, karena Rasulululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakan sholat ‘Ied. Sholat ‘Ied menggugurkan sholat jum’at, jika ‘Ied jatuh pada hari jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa digugurkan oleh kewajiban yang lain (At Ta’liqat Ar Radhiyah, syaikh Al Albani, 1/380). Nabi menyuruh manusia untuk menghadirinya hingga para wanita yang haidh pun disuruh untuk datang ke tempat sholat, tetapi disyaratkan tidak mendekati tempat sholat. Selain itu Nabi juga menyuruh wanita yang tidak punya jilbab untuk dipinjami jilbab sehingga dia bisa mendatangi tempat sholat tersebut, hal ini menunjukkan bahwa hukum sholat ‘Ied adalah fardhu ‘ain.

Waktu Sholat ‘Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari (waktu Dhuha). Disunahkan untuk mengakhirkan sholat ‘Iedul Fitri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan untuk menunaikan zakat fitrah.

Disunahkan untuk mengerjakan di tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali ada udzur (misalnya hujan, angin kencang) maka boleh dikerjakan di masjid.

Dari Jabir bin Samurah berkata: “Aku sering sholat dua hari raya bersama nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqamat.” (HR. Muslim) dan tidak disunahkan sholat sunah sebelum dan sesudah sholat ‘ied, hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat hari raya dua raka’at. Tidak ada sholat sebelumnya dan setelahnya (HR. Bukhari: 9890)

Untuk Khutbah sholat ‘ied, maka tidak wajib untuk mendengarkannya, dibolehkan untuk meningggalkan tanah lapang seusai sholat. Khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dibuka dengan takbir, tapi dengan hamdalah, dan juga tanpa diselingi dengan takbir-takbir. Beliau berkutbah di tempat yang agak tinggi dan tidak menggunakan mimbar. Rasulullah berkutbah dua kali, satu untuk pria dan satu untuk wanita, ketika beliau mengira wanita tidak mendengar khutbahnya.

7. Ucapan selamat Hari Raya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari raya dan beliau menjawab: “Adapun ucapan selamat pada hari raya ‘ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian lainnya jika bertemu setelah sholat ‘ied yaitu: Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau ahaalAllahu ‘alaika (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan semisalnya.” Telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan hal ini. Imam Ahmad berkata, “Saya tidak akan memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘ied, Namun jika seseorang itu memulai maka saya akan menjawabnya.” Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunah yang diperintahkan dan juga tidak ada larangannya. Barangsiapa yang melakukannya maka ada contohnya dan bagi yang tidak mengerjakannya juga ada contohnya (Majmu’ al-Fatawaa, 24/253). Ucapan hari raya ini diucapkan hanya pada tanggal 1 Syawal.

8. Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya.

Saat hari raya, kadang kita terlena dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemungkaran-kemungkaran diantaranya:

1. Berhias dengan mencukur jenggot (untuk laki-laki).
2. Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.
3. Menyerupai atau tasyabuh terhadap orang-orang kafir dalam hal pakaian dan mendengarkan musik serta berbagai kemungkaran lainnya.
4. Masuk rumah menemui wanita yang bukan mahrom.
5. Wanita bertabarruj atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain dan wanita keluar ke pasar dan tempat-tempat lain.
6. Mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya ‘ied saja, serta membagi-bagikan permen, dan makanan-makanan lainnya, duduk di kuburan, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, melakukan sufur (wanitanya tidak berhijab), serta meratapi orang-orang yang sudah meninggal dunia.
7. Berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung mashlahat dan faedah.
8. Banyak orang yang meninggalkan sholat di masjid tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at agama, dan sebagian orang hanya mencukupkan sholat ‘ied saja dan tidak pada sholat lainnya. Demi Allah ini adalah bencana yang besar.
9. Menghidupkan malam hari raya ‘ied, mereka beralasan dengan hadits dari Rasulullah: “Barangsiapa menghidupkan malam hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adha, maka hatinya tidak akan mati di hari banyak hati yang mati.” (Hadits ini maudhu’/palsu sehingga tidak dapat dijadikan dalil).

Maroji’:

1. Ahkamul ‘Aidain oleh Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari.
2. Meneladani Rasulullah dalam Berhari Raya.


:: SELAMAT HARI RAYA AIDILFITRI 1430H ::

September 20, 2009

aidilfitri

Sempena dengan ketibaan SYAWAL yang mulia ini, dengan rasa rendah diri saya bersama suami dan seluruh keluarga memohon keampunan dan kemaafan seandainya terdapat kesalahan mahupun kesilapan disepanjang kehidupan ini.

Kadang-kadang mata tersalah melihat
Telinga tersalah mendengar
Mulut tersalah berkata

Semoga cahaya bersinar
Seribu senyuman berseri
Dengan keikhlasan

SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI
MAAF ZAHIR BATIN.

selamat hari raya aidilfitri

‘Taqabbalallahu minna waminkum’
“Semoga Allah menerima amalan (amalan dan ibadat di Ramadhan) kami dan kamu”

Saya juga ingin menyusun sepuluh jari memohon keampunan sekiranya ada tutur bicara atau perilaku yang telah mencalar perasaan sesiapapun. Sesungguhnya setiap manusia itu tidak maksum dari melakukan kesilapan.

Allah SWT telah berfirman:

24_22

“dan (sebaliknya) hendaklah mereka memaafkan serta melupakan kesalahan orang-orang itu; tidakkah kamu suka supaya Allah mengampunkan dosa kamu? Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.”
(Surah An-Nuur 24:22)

Selamat Berbahagia di Aidilfitri

“Kullu ‘am wa antum bikhair”

Dengan ingatan tulus ikhlas,
Natasia Maiza™ & Suami


:: Makna AIDILFITRI ::

September 19, 2009

Insya-Allah, akan tibalah 1 Syawal untuk umat Islam yang akan menyambut Hari Raya Aidilfitri setelah sebulan berpuasa dalam Ramadhan. Sebagai hadiah kemenangan bagi orang Islam dalam perjuangan mengekang hawa nafsu di bulan Ramadan, Allah SWT membalasnya dengan satu hari yang dinamakan Aidilfitri di mana Allah SWT menghalalkan mereka berbuka puasa dan mengharamkan berpuasa pada hari tersebut.

Hazrat Ibnu Abbas r.a berkata bahawa sesungguhnya beliau telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya syurga diwangikan dan dihiasi dari tahun ke tahun untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Apabila tiba malam pertama dari bulan Ramadhan, satu angin akan bertiup dari bawah Arasy yang dinamakan ‘Muthirah’.

“Lalu bergeseranlah daun-daun pokok-pokok syurga dan juga gagang pintu-pintu syurga, maka kedengaran dari yang demikian itu satu bunyian merdu yang tidak pernah didengari bunyian yang lebih merdu daripada itu sebelumnya. Kemudian muncullah bidadari-bidadari sehingga mereka berhenti di anjung syurga. Mereka kemudian menyeru, “Adakah sesiapa yang ingin meminang kami supaya Allah SWT mengahwinkannya dengan kami?”

“Kemudian mereka berkata lagi, “Wahai Ridhwan penjaga Syurga! Malam apakah ini?” Dia akan menjawab kepada mereka dengan “Labbaik!” kemudian dia berkata: “Malam ini adalah malam pertama dari bulan Ramadhan. Dibukakan pintu-pintu syurga untuk umat Muhammad.”

Nabi Muhammad SAW bersabda lagi, Allah SWT akan berfirman: “Wahai Ridhwan! Bukakanlah pintu-pintu syurga dan wahai Malik tutuplah pintu-pintu neraka bagi mereka yang berpuasa daripada umat Ahmad. Wahai Jibrail! Turunlah ke bumi dan tangkaplah syaitan yang sangat-sangat degil lalu ikatlah mereka supaya mereka tidak dapat merosakkan puasa umat Muhammad kekasih-Ku.”

Baginda bersabda lagi: “Allah SWT akan memerintahkan seorang penyeru pada setiap malam dari Ramadan supaya dia menyeru tiga kali, “Adakah sesiapa yang ingin memohon sesuatu supaya Allah mengurniakannya? Adakah sesiapa yang ingin bertaubat supaya Allah menerima taubatnya? Adakah sesiapa yang ingin memohon keampunan supaya Allah mengampuninya?

Siapakah yang sanggup memberi hutang kepada si kaya yang tidak mungkin akan miskin, yang akan membayar hutangnya sepenuh-penuhnya tanpa dizalimi.”

“Pada waktu berbuka puasa pada setiap hari dari bulan Ramadan, Allah SWT akan membebaskan sejuta jiwa dari neraka yang kesemuanya telah ditentukan untuk memasuki neraka. Apabila tiba hari terakhir dari bulan Ramadhan, Allah SWT akan membebaskan pada hari itu sebanyak mana yang Dia telah bebaskan dari awal bulan sehingga ke akhirnya.

“Apabila berlaku Lailatul Qadr, Allah SWT akan memerintahkan Jibrail a.s supaya turun bersama satu kumpulan malaikat. Bersama mereka terdapat bendera hijau. Dia akan memacak bendera itu di atas Kaabah.

Jibrail a.s mempunyai seratus sayap. Di antaranya terdapat dua sayap yang tidak dibuka kecuali pada malam itu sahaja. Lalu dia membuka keduanya pada malam itu sehingga kedua-dua sayapnya akan menutup dari timur ke barat.

Kemudian pada malam tersebut Jibrail akan mendorong malaikat-malaikat sehingga mereka pergi memberi salam kepada setiap orang yang sedang berdiri atau duduk, bersolah atau berzikir. Malaikat-malaikat itu akan berjabat tangan dengan mereka dan akan mengaminkan doa-doa mereka sehingga terbit fajar. Apabila fajar, Jibrail a.s akan menyeru segala malaikat, “Sekarang berangkatlah!”

Malaikat-malaikat itu pun akan bertanya, “Wahai Jibrail apakah yang Allah SWT telah lakukan terhadap keperluan-keperluan orang-orang beriman dari umat Muhammad SAW?. Dia akan menjawab, “Allah SWT telah memerhatikan mereka pada malam ini lalu telah mengampunkan mereka kecuali empat jenis manusia.” Maka kami pun bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Baginda bersabda, “Lelaki yang berterusan minum arak, dia yang mendurhakai kedua-dua ibu bapanya, dia yang memutuskan silaturrahim dan musyahin.”

Kami telah berkata, “Ya Rasulullah! Siapakah itu musyahin?” Baginda SAW menjawab, “Dia adalah orang yang memutuskan perhubungan keluarga.”

Apabila tiba malam Hari Raya Aidilfitri – malam itu dinamakan di sisi penduduk langit sebagai Lailatul Jaizah. Pada pagi hari raya itu, Allah SWT menghantar para malaikat ke setiap tempat. Lalu mereka turun ke bumi dan berdiri di muka-muka jalan dan lorong.

Mereka akan menyeru dengan suara yang didengari oleh semua apa yang diciptakan oleh Allah SWT kecuali jin dan manusia. Mereka berkata, “Wahai umat Muhammad! keluarlah kepada Tuhan yang Maha Pemurah yang mengurniakan dengan banyaknya dan memaafkan dosa-dosa besar,”

Apabila mereka tiba di tempat sembahyang raya, Allah SWT akan berkata kepada para malaikat,” Apakah balasan bagi seorang pekerja yang telah melakukan kerjanya?” Baginda bersabda, “Para malaikat akan berkata, Wahai Tuhan kami dan Pemilik kami, balasannya ialah disempurnakan ganjarannya.”

Lalu Allah SWT berfirman: “Kerana itu, Aku telah menjadikan kami sebagai saksi. Wahai malaikat-Ku! Sesungguhnya Aku telah jadikan balasannya kepada mereka kerana puasa mereka di bulan Ramadan dan berdirinya mereka (beribadat kepada-Ku di dalam Tarawih) ialah keredaan-Ku dan keampunan-Ku!”

Allah SWT akan berfirman lagi: “Wahai hamba-hamba-Ku! Pohonlah dari-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan kehebatan-Ku, tidaklah kamu memohon sesuatu pun dari Ku pada hari ini di dalam perhimpunan kamu ini untuk kepentingan akhiratmu kecuali Aku akan menunaikannya dan tidak juga untuk kepentingan duniamu kecuali Aku akan memandang untuk kebaikkanmu. Demi kemuliaan-Ku, Aku akan tutupkan keaiban-keaibanmu selama mana engkau mengambil berat terhadap-Ku. Demi kemuliaan-Ku dan demi kehebatan-Ku, tidaklah Aku akan menghinakan kamu dan tidak juga Aku akan memalukan kamu di kalangan orang-orang yang berdosa (dan orang-orang kafir) kembalilah kamu di dalam keadaan kamu telah diampunkan. Sesungguhnya kamu telah meredakan daku dan Aku juga telah meredakan kamu. Para malaikat pun bergembira dan bersuka ria dengan apa yang Allah telah berikan pada umat ini apabila mereka telah selesai daripada puasa di bulan Ramadan. (Hadis riwayat Baihaqi).

Begitu besar kelebihan Ramadan hingga 1 Syawal untuk menyambut Aidilfitri dan betapa pemurahnya anugerah Allah SWT kepada umat Islam kerana memberi limpahan rahmat yang tidak terhitung oleh kita serta kemurahan ganjaran pahala kepada hamba-Nya yang taat dan sentiasa ikhlas.

Dan sepatutnya umat Islam merayakannya dengan ketakwaan dan keimanan selepas berjaya keluar dari madrasah Ramadan, kerana antara hasil berpuasa yang diharapkan ialah dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Surah al-Baqarah: 183 bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Justeru, cara meraikan Aidilfitri juga perlu melalui jalan orang-orang yang bertakwa sebagaimana ditunjukkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Ia termasuk menyambutnya mengikut lunas-lunas yang digariskan oleh syarak dan tidak dicampur-baurkan dengan perkara-perkara yang dilarang atau yang diharamkan.

Apatah lagi, Aidilfitri sememang tidak boleh disamakan dengan sambutan perayaan lain, kerana ia merupakan kurniaan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beribadat dan berjuang melawan hawa nafsu sepanjang Ramadan.

Begitupun, sering kali keghairahan perayaan itu menjadikan kita terlupa terhadap adab-adab dan perkara-perkara sunat yang dilakukan ketika menyambut kedatangan Hari Raya Aidilfitri.

Bermula dengan malam raya yang mempunyai banyak fadilat atau kelebihan apabila dihidupkan dengan melakukan amal-amal ibadat iaitu di samping mendirikan sembahyang fardu secara berjemaah, perlu diperbanyakkan sembahyang sunat, bertakbir, memanjatkan doa ke hadrat Ilahi dan melakukan pelbagai amal kebajikan.

Al-Imam Al-Syafie telah menegaskan bahawa malam Hari Raya itu adalah di antara malam-malam yang mudah diperkenankan doa, sebagaimana beliau berkata dalam kitabnya Al-Umm: “Telah sampai kepada kami bahawasanya pernah dikatakan, sesungguhnya doa itu sungguh mustajab pada lima malam; malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitrah, awal malam Rajab dan malam Nisfu Sya’ban.”

Namun apa yang sering berlaku dalam masyarakat kita ialah malam raya disibukkan dengan kerja-kerja menghiasi rumah, memasang langsir atau mengalih perabot semata-mata hingga keletihan lalu terlepas peluang untuk mendapat kelebihan pada malam raya.

Selain berdoa, kemeriahan Aidilfitri akan lebih dizahirkan untuk bertambah dirasai dengan laungan takbir bergema. Namun begitu, tidak bermakna takbir itu semata-mata untuk memeriahkan suasana tetapi lebih dari itu, ia lebih bersifat untuk melahirkan rasa kesyukuran dan mengagungkan Allah SWT yang dengannya kita sentiasa mengakui akan kebesaran dan keagungan-Nya melalui pengucapan takbir.

Bahkan ucapan takbir pada malam Hari Raya itu merupakan ibadah di akhir Ramadan dan untuk menyambut kedatangan Aidilfitri.

Oleh itu, disunatkan mengucapkan takbir dengan mengangkat suara, bermula waktunya dari terbenam matahari malam Hari Raya sehingga imam mengangkat takbiratul ihram sembahyang Aidilfitri.

Pada pagi raya pula, disunatkan mandi Hari Raya Aidilfitri sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Al-Fakih bin Sa’d r.ahum bahawa Rasulullah SAW melakukan mandi pada Hari Raya Fitrah dan Hari Raya Adha. (Riwayat Ibnu Majah.)

Di samping itu disunatkan juga memakai pakaian yang terbaik, memakai harum-haruman dan menghilangkan segala bau-bau yang tidak elok. Tidak kira sama ada orang itu hendak keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Hari Raya ataupun duduk sahaja di rumah, kerana hari tersebut merupakan hari untuk berhias-hias dan berelok-elok.

(Hadits riwayat Al-Syafi’e dan Al-Baghawi).

Sebelum keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang sunat Hari Raya Fitrah disunatkan makan dan minum terlebih dahulu kerana mengikut apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas r.a, beliau berkata:

“Nabi SAW tidak keluar pada waktu pagi Hari Raya Fitrah sehingga Baginda makan (terlebih dahulu) beberapa biji tamar dan Baginda memakannya dalam bilangan ganjil.” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Ahmad).

Selain itu, Hari Raya merupakan hari kemenangan dan kegembiraan, maka sebab itu disunatkan bagi sesama Muslim saling mengucapkan tahniah antara satu sama lain.

Selain itu, amalan saling ziarah menziarahi rumah terutama sekali saudara mara terdekat dan sahabat handai merupakan suatu tradisi yang sentiasa diamalkan ketika menyambut Hari Raya.

Amalan ini juga sebenarnya termasuk dalam perkara yang digemari dan disyariatkan dalam Islam.

Justeru, untuk amalan ziarah menziarahi, adalah ditekankan kepada orang yang pergi berziarah supaya sentiasa menjaga adab dan tertib yang ditetapkan oleh Islam.

Umpamanya hendaklah meminta izin atau memberi salam sebelum masuk, tidak menghadapkan muka langsung ke arah pintu, menjaga adab kesopanan ketika berada di dalam rumah orang yang diziarahi, memilih waktu yang sesuai untuk berziarah dan sebagainya.

Sementara itu, dalam keghairahan menyambut hari raya, perlu diingat jangan sekali-kali sampai lupa kewajipan mendirikan sembahyang fardu dan yang paling afdal ialah secara berjemaah di masjid atau surau.

Selain itu, sentiasa menjaga batas-batas dalam pergaulan antara lelaki dan wanita dan kita perlu memastikan zakat fitrah sudah dibayar sebelum sembahyang raya, melayan tetamu dengan baik, berkasih sayang sesama saudara seIslam, bermaaf-maafan, menunjukkan akhlak terpuji dan mengelakkan pembaziran dalam sebarang urusan.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.