DOA Malaikat Kecil

Mac 24, 2009

0512171356395thankful_prayer“Ya Allah, berilah mama kesehatan sembuhkanlah mama supaya mama bisa ke kantor lagi, aamiiin…” Bocah kecil berusia empat tahun, dengan mata berkaca-kaca, tangan tertengadah, berdoa kepada Tuhannya, untuk kesembuhan sang Bunda. Sesaat selepas berdoa, ia menoleh kepada Bunda untuk memberikan senyum kecil nan tulus. Matanya yang bulat bening, seolah mengatakan bahwa ia sangat berharap Bunda dapat sehat kembali, supaya dapat beraktifitas seperti sedia kala.

Aku terharu. Sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dia adalah malaikat kecil, yang dianugerahkan Allah Yang Pemurah kepada kami.
Badanku yang terbaring lemas tanpa daya di atas pembaringan ini, secepat kilat seakan mendapat kekuatan baru mendengar barisan doa itu.

Perlahan aku beringsut dari posisi tidurku, lantas duduk bersandar. Masih di pembaringan. “Makasih, ya Kak… Kakak sangat baik sama Mama,” ucapku tak kalah tulus.
“Iya, sama-sama… Mama juga sangat baik sama Iq,” sahutnya, sembari datang memelukku.

Ah… Tuhan, indah sekali moment seperti ini. Pintar sekali dia, bak seorang dewasa saja tingkahnya. Terima kasih! Seruku dalam hati.
Anak kecil itu, memang masih sangat kecil jika diajak untuk berbicara banyak hal yang rumit. Namun Subhannallah… betapa ia sudah peka dengan yang terjadi di sekelilingnya, termasuk untuk mendoakan mamanya yang sedang sakit. Padahal, jika pun aku sembuh… waktuku tak banyak kuberikan padanya.

Sejak dokter kandungan menyatakan bahwa aku mengandung anak kedua tiga bulan lalu, daya tahan tubuhku agak menurun. Seringkali mudah terserang sakit. Lebih cepat lelah. Dan kadang, kurasakan mual. Jika dibandingkan dengan kehamilan pertama, aku memang harus banyak bersyukur karena kali ini tak serepot dahulu. Jika dulu aku sempat tak doyan makan nasi hingga usia kandungan tiga bulan, kini nafsu makanku malah meningkat. Aku juga tak sampai muntah. Alhamdulillah…

Namun mungkin, karena merasa lebih sehat dari dulu, aku lepas kontrol. Bekerja terlalu keras, bahkan seringkali lembur, hingga pulang ke rumah larut malam. Memang sih, di awal tahun begini, pekerjaanku seringkali menumpuk. Maka jadilah kemudian aku ambruk!
Suatu pagi, dua hari lalu, aku merasakan tubuhku teramat lunglai. Ketika kupaksakan bangun, mataku berkunang-kunang dan hampir terjatuh. Beruntung ada suami di belakangku, yang kemudian memapahku kembali ke kamar.

Dan sejak saat itu pula, aku nyaris tidak mengerjakan suatu pekerjaan apa pun, kecuali berbaring. Tiduran. Walau tak bisa juga aku tidur. Berdasarkan pemeriksaan dokter, aku kecapekan. Diminta untuk banyak beristirahat. Hmm…  Meski begitu, pikiranku masih saja melayang ke kantor, menuju pekerjaan yang pasti kian hari kian terbengkalai karena belum tersentuh.
Dan kesibukanku sebagai ibu rumah tangga sekaligus perempuan bekerja, membuat waktu terasa begitu sempit untuk berbagi dengannya. Meskipun demikian, bocah suci itu… selalu saja periang. Mudah memaafkan. Dan tak pernah menyimpan setitik amarah pun dalam hati putihnya.

Kini, setelah mendengar doanya, aku baru menyadari. Bahwa selama empat tahun ia diamanahkan kepada kami, aku belum begitu bisa menjaganya. Seringkali ketika ia meminta perhatian, dengan tiba-tiba duduk di pangkuanku, misalnya. Aku malah mengusirnya. Memintanya duduk sendiri, dengan alasan dia sudah semakin besar. Atau ketika dia datang dengan setumpuk buku cerita di tangan mungilnya untuk dibacakan, seribu satu alasan kuberikan padanya. Aku amat paham bahwa ia sangat sayang padaku. Namun jahatnya, aku seringkali menggunakan belas kasihnya sebagai dalih.
“Nanti malam saja, Sayang. Mama masih capek, baru datang dari kantor. Lagipula tenggorokan mama gatal, jadi… nanti malam saja ceritanya, ya…”

Dan seperti yang sudah-sudah, alasan kecapekan atau sakit, selalu ia terima dengan senyuman. Ia pun pergi dengan tumpukan bukunya.
Dan selama itu pula, aku tak pernah menyesal. Padahal aku mungkin telah mengecewakannya begitu rupa. Sekarang… doa tulusnya telah berhasil membangunkan aku dari kekhilafan. Aku berharap, dan akan berjuang keras… untuk tidak menolak keinginan baiknya. Untuk menyambut perhatian yang ia damba dari bundanya.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepadaku, untuk dapat berubah menjadi bunda yang lebih baik buatnya. Karena Allah telah begitu sayang kepadaku, dengan memberikan putra yang demikian sholih… hingga dalam usianya yang relatif sangat sangat muda, doa tulusnya telah mengalir buatku.

Dan semoga kelak ia menjadi anak yang sholih, yang bisa menerangi kubur dan mengangkat derajat kami di Syurga, dengan doa-doa panjangnya yang melimpah, aamiiin…

“Apabila anak cucu Adam itu wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholih yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim, dari Abu Hurairah ra).

“Akan diangkat derajat seorang hamba yang sholih di Syurga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Allah, apa yang membuatku begini? Kemudian dikatakan kepadanya, Permohonan ampun anakmu untukmu.” (HR Ahmad, dari Abu Hurairah ra).
————————————————–
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam… yang telah menganugerahkan kepada kami, malaikat kecil penyejuk hati.

Terima kasih, Nak…

Advertisements

:: HUKUM NIKAH :: Waktu Yang Dianjurkan Memulai Bercampur Dengan Isteri

Mac 24, 2009

Dari Aisyah r.anha berkata, “Rasulullah SAW. kawin denganku pada bulan Syawal dan mulai bercampur denganku pada bulan Syawal (juga); maka siapakah isteri-isteri Rasulullah saw. yang lebih dicintai oleh beliau daripada saya?” Aisyah merasa senang jika wanita-wanita mulai dicampuri (digauli) pada bulan syawal. (Shahih : Shahih Ibnu Majah no:1619, Muslim II:1039 no:1423, Tirmidzi II:277 no:1099 tanpa kalimat yang ditengah, dan Nasa’i VI:130 tanpa kalimat yang terakhir, serta Ibnu Majah I:641 no:1990).

Beberapa Perbuatan Yang Dianjurkan Ketika Masuk Ke Kamar Pengantin

(Sub Bab Ini Diringkas Dari Kitab, Adabuz Zifaf Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).

Dianjurkan sang suami bersikap lemah lembut kepada isterinya, misalnya menyuguhkan minuman dan semisalnya kepada isterinya.

Dari Asma’ Binti Yazid ia bertutur, “Sesungguhnya aku merias Aisya ra ‘anha untuk Rasulullah saw. setelah itu aku datang kepada beliau lalu memanggil beliau agar memberikan hadiah pengantin kepada Aisyah pada saat pesta perkawinan itu, kemudian datanglah r.a. lalu duduk berdampingan dengan Aisyah lantas beliau menyuguhkan sebuah bejana berisikan susu kepada Aisyah, lalu beliau memegang kemudian Aisyah menundukkan kepalanya.dan ia merasa malu, maka aku membentaknya, lalu kukatakan kepadanya, “Ambillah dari tangan Nabi saw. itu,” Kemudian ia mengambilnya lalu ia meminumnya sebagian.” (al-Humaidi I:179 no:367, al-Fathur Rabbani VI:438, 452 dan 458, adanya yang secara ringkas dan ada pula yang panjang lebar dan kedua sanad ini saling menguatkan. Disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam Adabuz Zifas).

Sepatutnya sang suami meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya, seraya mengucapkan basmalah dan berdo’a kepada Allah memohon barakah kebahagiaan, serta dianjurkan pula mengucapkan do’a sebagaimana dalam sabda beliau berikut ini:

“Jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang perempuan, atau membeli seorang budak, maka hendaklah pegang ubun-ubunnya seraya mengucapkan basmallah dan mohon barakah serta ucapkanlah do’a barokah

“ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA MIN KHAIRIHA WA KHOIRI MAA JABALTAHAA ‘ALAIHI, WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRIHAA WASYARRIMAA JABALATHAA’ALAIH”

(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan dan kebaikan yang telah Engkau adakan padanya dan dia berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan dari kejahatan yang Engkau lakukan padanya).” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1557, ‘Aunul Ma’bud VI:196 no:2146, dan Ibnu Majah I:617 no:1918).

Dianjurkan kepada pengantin putera dan puteri mengerjakan shalat dua raka’at bersama-sama, karena perbuatan ini telah dipraktikkan oleh generasi salafush shalih, dan dalam hal ini ada, dua atsar.

Dari Abi Sa’id bekas budak Abu Usaid ia berkata, saya pernah kawin ketika saya berstatus sebagai budak, saya mengundang sejumlah sahabat Nabi saw. di antara mereka (yang hadir) ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Kemudian dikumandangkan iqamah untuk menegakkan shalat, Lalu Abu Dzar datang untuk menjadi imam shalat, setelah itu, mereka berkata (kepadaku). “Majulah,” maka saya jawab, “Harus maju?” Jawab mereka “Ya” kemudian saya maju karena dorongan mereka, pada waktu itu saya berstatus hamba sahaya dan mereka mengajariku yaitu mereka berkata, “Apabila isterimu datang menemuimu maka hendaklah kamu mengerjakan shalat dua raka’at. Kemudian mohonlah kepada Allah kebaikan apa yang masuk kepadamu, dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya, kemudian setelah itu terserah kamu dan isterimu.” (Sanadnya Shahih: Adabuz Zifah hal. 22 dan Ibnu Syaibah IV:311).

Dari Syaqiq, bahwa telah datang seorang laki-laki yang biasa dipanggil Abu Juraiz, lalu berkata, “Sesungguhnya aku telah kawin dengan seorang gadis dan aku khawatir dia marah kepadaku.” Kemudian Abdullah Mas’ud r.a..berkata “Sesungguhnya persabahatan datang dari Allah dan kebencian bersumber dari syaitan yang menginginkan agar kalian tidak menyenangi apa yang Allah halalkan buat kalian. Karena itu, jika isterimu datang perintahlah ia shalat dua raka’at belakangmu.” Dalam riwayat yang lain ada tambahan dari Ibnu Mas’ud ra ia berkata, Dan ucapkanlah do’a..

“ALLAHUMMA BAARIKLII FII AHLI WABAARIIKLAHUM FII, ALLAHUMMAJMA’BAINANAA MAAJAMA’TA BAKHAIRIN WA FII WA FARRIQ BAINANAA IDZA FARRAQTA ILAA KHAIRIN”

(Ya Allah, berikanlah barakah kepadaku pada keluargaku dan limpahkanlah barakah kepada mereka melalui diriku, ya Allah, kumpulkanlah antara kami selama Engkau mengumpulkan (kami) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami bila Engkau hendak memisahkan (kami) menuju kebaikan!).” (Shahih: Adabuz Zifaf hal:23, Ibnu Abi Syaibah IV:312).

Adapun ketika hendak melakukan jima’ dianjurkan sang suami mengucapkan do’a:

“BISMILLAAH, ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHAAN WAJANNABISYSYAITHAAN MAA RAZAQTANAA”

(Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang akan Engkau karuniakan kepada kami).

Rasulullah saw. bersabda, “Jika keduanya dikarunia seorang anak, maka selamanya syaitan tidak dapat mengganggunya.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:197 no:2147, Tirmidzi II:277 no:248 ,dan Ibnu Majah I:618 no:1919).

Sang suami boleh mencampuri isterinya melalui qubul (vagina)nya dari arah mana saja, dari belakang atau dari depan. Hal ini mengacu pada firman Allah SWT,

“Isteri-isteri kamu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.”(Al-Baqarah: 223).

Yaitu sesuai dengan selera kita, dari depan atau dari belakang. Dari Jabir r.a. bahwa orang-orang Yahudi berkata, “Apabila seorang suami mencampuri isterinya di qubul (vagina)nya, dari arah belakang, maka akan lahir anak yang juling matanya,” Kemudian turunlah ayat, “Isteri-isteri kamu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu darimana saja kamu kehendaki.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VIII:189 no:4528, Muslim II:1058 no:1435, ‘Aunul Ma’bud VI:203 no:2149, Ibnu Majah I:620 no:1925).

Dari Ibnu Abbas r.a. bertutur, “Ini adalah sebuah kampung dari kami Anshar yang mereka dahulu penyembah berhala berinteraksi dengan kampung dari.kaum Yahudi yang termasuk Ahli Kitab. Sebagian mengaku memiliki kelebihan dalam bidang ilmu atas sebagian yang lain. Dan, sebagian diantara mereka menerima banyak perbuatan sebagian yang lain. Di antara kebiasaan Ahli Kitab ialah mereka tidak mau bercampur dengan para isteri mereka kecuali dari samping, yang demikian itu lebih menutupi apa yang menjadi kehormatan wanita kemudian satu kampung yang berasal dari Anshar ini meniru perbuatan mereka itu, sementara orang-orang yang berasal dari kaum Quarisy ini, biasa menyetubuhi isterinya dengan posisi terlentang yang tidak baik dan biasa (pula) berkencan dengan mereka dari arah belakang atau dari arah depan dalam posisi berbaring. Tatkala orang-orang yang berhijrah tiba di Madinah, maka seorang diantara Muhajirin kawin dengan seorang perempuan dari kaum Anshar. Kemudian dia mencampuri isterinya dengan cara kami (orang Quraisy). Kemudian isteri tersebut menegur suaminya atas gaya-gayanya seraya berkata, “Sesungguhnya kami (wanita Anshar) hanya biasa dicampuri dalam posisi miring, oleh karena itu, lakukanlah gaya seperti itu! Jika tidak jauhilah aku.’ Kemudian sampailah kasus itu kepada Rasulullah saw. lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Isteri-isteri kamu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Yaitu dari arah depan, dari arah belakang atau berbaring yaitu di tempat keluarnya bayi itu.” (Sanadnya Hasan: Adabuz Zifaf hal. 28, dan ‘Aunul Ma’bud VI:204 no:2150).

Haram bagi suami menggauli isterinya di duburnya. Hal ini mengacu pada sabda Nabi saw., “Barangsiapa yang bercampur dengan isteri yang sedang haidh atau diiduburnya, atau datang kepada tukang tepung, lalu ia mempercayai apa yang dikatakan kepadanya, maka sungguh ia telah kafir kepada kitab yang diturunkan kepada Muhammad.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:2006, Ibnu Majah I:209 no:639, Tirmidzi I:90 no:135, ‘Aunul Ma’bud X:398 no:3886).

Seyogyanya kedua belah pihak, pengantin putera dan pengantin puteri meniatkan pernikahannya demi mengendalikan nafsu keduanya dan membentengi diri mereka agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang diharamkan Allah. Maka jima’ yang dilakukan keduanya sebagai shadaqah bagi mereka berdua:

Dari Abu Dzar r.a. bertutur : Ada sejumlah sahabat Nabi saw. berkata kepadanya,

“Ya Rasulullah, orang-orang yang kaya telah membawa pahala yang banyak, mereka menegakkan shalat sebagaimana yang kami laksanakan, mereka berpuasa sebagaimana, yang kami lakukan dan mereka menginfakkan kelebihan harta kekayaan mereka.” Maka Rasulullah saw. menjawab, “Bukankah Allah benar-benar telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang bisa kalian shaddaqahkan? Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah menyuruh yang ma’ruf shadaqah, mencegah dari perbuatan yang maksiat shadaqah, dan di dalam persetubuhan seorang di antara kamu (dengan isterimu) terdapat shadaqah.” Para sahabat bertanya, “Ya, Rasulullah, apakah seorang antara kami yang melampiaskan syahwatnya (kepada isterinya) ia dapat memperoleh pahala?” Sahut Beliau “Bagaimana pendapat kalian seandainya melampiaskannya pada yang haram, apakah ia akan menanggung dosa? Maka begitu juga, manakala ia melampiaskan pada yang halal, maka, pasti ia akan mendapatkan pahala.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:2588 dan Muslim II: 697 no:1006).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 549-556

:: HUKUM NIKAH :: Kewajiban Mengadakan Walimah

Mac 24, 2009

Wajib mengadakan walimah setelah dhukul (bercampur), berdasarkan perintah Nabi saw. kepada Abdurrahman bin ‘Auf r.a. agar menyelenggarakan walimah sebagaimana telah dijelaskan pada hadits berikut.

360140218

Dari Buraidah bin Hushaib bertutur, “Tatkala Ali melamar Fathimah r.anha, berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah.”(Shahih Jami’us Shaghir no:2419 dan al-Fathur Rabbani XVI:205 no:175).

Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam penyelenggaraan walimah.

a. Hendaknya walimah dilaksanakan dalam tiga hari, setelah dhukhul (bercampur), karena perbuatan inilah yang dinukil dari Nabi saw. dari Anas r.a. bertutur, “Nabi saw. menikahi Syafiyah dan menjadikan pemerdekaannya sebagai maharnya dan mengadakan walimah selama tiga hari.” (Sanadnya Shahih: Adabuz Zifaf hal.74, diriwayatkan Abu Ya’la dengan sanad hasan sebagaimana yang disebutkan dalam Fathul Bari, IX:199 dan yang sema’na diriwayatkan Imam Bukhari sebagaimana yang dijelaskan dalam Fathul Bari IX:224 no:1559. Demikian menurut Syaikh al-Albani.

b. Mengundang orang-orang yang shalih baik fakir maupun kaya, karena Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin. Dan Jangan (pula) menyantap makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (Hasan: Shahihul Jami’us Shaghir no:7341, ‘Aunul Ma’bud XIII:178 no:4811 dan IV:27 no:2506).

c. Hendaknya mengadakan walimah, dengan memotong seekor kambing atau lebih, bila mampu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw. yang ditujukan kepada Abdurrahman bin ‘Auf r.a., “Adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dari Anas r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. mengadakan walimah untuk pernikahan dengan seorang wanita sebagaimana yang beliau adakan ketika kawin dengan Zainab dimana beliau menyembelih seekor kambing.” (Muttafaqin ‘alaih: Muslim II:1049 no:90 dan 1428, dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IX:237 no:5171, dan Ibnu Majah I:615 no:1908).

Boleh menyelenggarakan acara walimah dengan hidangan yang mudah didapatkan walaupun tanpa daging berdasarkan hadits Anas.

Dari Anas r.a. berkata, “Nabi saw. pernah menginap tiga hari di suatu tempat antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan perkawinan dengan Shafiyah binti Huyay. Kemudian aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah  Beliau. Dan tidak didapatkan dalam walimah tersebut ada roti ada daging, lalu diatasnya diletakkanlah korma kering dan minyak samin. Sehingga hidangan itu menjadi walimah Beliau.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:224 no:1559 dan lafadz ini baginya, Imam Bukhari, Muslim II:1043 no:1365 dan Nasa’i VI:134).

Tidak boleh mengkhususkan undangan hanya untuk orang-orang kaya, tanpa orang-orang miskin, Nabi saw bersabda, “Seburuk-buruk hidangan ialah hidangan walimah. Dimana orang yang berhak mendatanginya (orang yang berhak mendatanginya: orang miskin) dilarang mengambilnya, sedangkan orang yang enggan mendatanginya (Orang yang enggan mendatanginya: orang kaya (peng..) diundang (agar memakannya). Dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Muttafaqun ‘alaih: Muslim II:1055 no:110/1432, dan diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim juga dari Abu Hurairah secara mauquf padanya bisa dilihat dalam Fathul Bari IX:244 no:5177).

Orang yang diundang ke walimah wajib menghadirinya, berdasar hadits di atas dan sabda Nabi saw., “Jika salah seorang diantara kalian diundang menghadiri walimah maka hendaklah ia menghadirinya.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:230 no:5173, Mulim II:1052 no:1429 dan ‘Aununl Ma’bud X:202 no:3718).

Seyogyanya orang yang berpuasapun menghadiri undangan walimah karena ada sabda Nabi saw., “Apabila seorang diantara kamu diundang menghadiri undangan makan, maka hendaklah hadir. Jika ia sedang tidak berpuasa maka makanlah; jika sedang berpuasa maka berdo’alah.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir: 539, Baihaqi VII:263 dan ini lafadznya, Muslim II:1054 no:1431, ‘Aunul Ma’bud X:203 no:3719 dan 18).

Disunnahkan bagi orang yang sedang berpuasa sunnah hendaknya berbuka, terutama bila orang yang mengundang sangat mengharapkannya. Berdasarkan hadits Nabi saw. bersabda, “Jika salah seorang diantara kamu diundang makan, maka penuhilah jika ia mau ia makan dan jika tidak ia tinggalkan.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1955, Muslim II:1054 no: 1430 dan ‘Aunul Ma’bud X:204 no:3722).

Bagi orang yang menghadiri undangan walimah, dianjurkan melaksanakan dua hal berikut ini:

Pertama: setelah acara berakhir, dianjurkan berdo’a untuk tuan rumah dengan redaksi do’a yang bersumber dari Nabi saw. Do’a-do’a untuk ini, banyak diantaranya ialah

“ALLAAHUMMAGHFIR LAHUM  ARHAMHUM, WABAARIK LAHUM FIIMAA RAZAKTAHUM”

(Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa) mereka dan rahmatilah mereka, serta limpahkanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau karuniakan kepada mereka.” (Shahih Mukhtashar Muslim no:1316, Muslim III:1615 no:2042, ‘Aunul Ma’bud X:195 no:3711).

“ALLAHUMMA ATH’IMMAN ATH’MAN ATH’AMANII, WASQIMAN SAQAANII”

(Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberikan.makan dan berilah minum bagi orang yang memberiku minum).”(Shahih Musmil III:1630 no:2055)

“AKALA THA’AAMAKUMUL ABRAARU WA SHALLAT’ALAIKUMUL MALAA-IKATU, WA AFTHARA ‘INDAKUMUSH SHAA-IMUUNA”

(Orang-orang yang berbakti dengan tulus telah menyantap makananmu, para malaikat telah berdo’a untuk kamu, dan mereka yang berpuasa (sunnah) telah berbuka di (rumah)mu.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:1226 dan ‘Aunul Ma’bud X:333 no:3836).

Kedua: Berdo’a, memohon barakah dan kebaikan untuk tuan rumah dan juga isterinya, sebagaimana yang disinggung dalam pembahasan ucapan tahniah dalam pernikahan.

Dilarang menghadiri undangan yang terdapat padanya kemaksiatan kecuali bermaksud hendak mengubahnya dan berupaya memberantasnya. Jika tidak, maka haram menghadirinya.

Dalam hal ini banyak sekali hadits Nabi saw. diantaranya, dari Ali ra ia berkata, “Saya pernah memasak makanan lalu mengundang Rasulullah saw., lantas Beliau datang lalu melihat di dalam rumah terdapat lukisan maka beliau pulang lalu Ali bertanya:

“Ya Rasulullah, apa yang menyebabkan engkau pulang?” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya dalam rumahmu terdapat tirai yang banyak lukisan dan sesungguhnya para malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang didalamnya banyak gambarnya.” (Shahih: Shahihul Ibnu Majah no:2708, Ibnu Majah II: 1114 no:3359).

Beberapa hal diatas sudah biasa dipraktikkan generasi salafush shalih ra.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr bahwa ia pernah dibuatkan makanan oleh seseorang, lalu Ia diundang olehnya, maka ia bertanya, “Apakah di dalam rumahmu ada gambar?” Jawabnya, “Ya, (ada) Maka ia enggan masuk sebelah sebelum gambar itu dirusak. (Setelah dirusak), kemudian ia masuk,” (Sanadnya Shahih Adabuz Zifaf hal.93. dan Baihaqi VII:268). (Bisa dilihat juga dalam Fathul Bari IX:158 no:5181 (Penterj.)

Imam Bukhari bertutur : Ibnu Umar pernah mengundang Abu Ayyub, lalu ia melihat gorden (bergambar) di rumah (Ibnu Umar), kemudian Ibnu Umar berkata: “(Wahai Abu Ayyub) kaum wanita memaksa kami masang tirai ini.” ia berkata,”Adakah orang yang aku takuti, maka aku tidak takut kepadamu. Demi Allah aku tidak akan menikmati, hidanganmu ini.” kemudian ia kembali pulang. (Fathul Bari IX:249).

Sang suami boleh bersikap toleran kepada para wanita dalam proses walimatul ‘urusy untuk mengumumkan pesta pernikahan dengan memukul rebana, atau dengan lantunan lagu-lagu yang mubah, dimana di dalamnya tidak terkandung promosi kecantikan dan tidak pula untaian kata-kata yang jorok. Dalam hal ini banyak hadits Nabi saw yang menjelaskannya diantaranya:

Nabi saw bersabda, “Umumkan pernikahan!” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1537 dan Shahih Ibnu Hibban hal.313 no:1285).

Sabda Beliau lagi, “Perbedaan antara yang halal dan yang haram adalah rebana dan suara dalam pesta pernikahan.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1538, Nasa’i VI:127, Ibnu Majah II:611 no:1896, Tirmidzi II:275 no:1094 tanpa kata FIN NIKAH).

Dari Khalid bin Dzakwan, bahwa ar-Rubayyi binti Mu’awidz bin Afra’ bertutur: Nabi saw. datang masuk (ke rumahku) di hari pernikahanku lalu Beliau duduk didepanku seperti cara dudukmu denganku. Kemudian para perempuan kecil yang kami undang mulai memukul rebana dan mereka menyebut-nyebut kebaikan ayah yang gugur pada waktu perang Badar. Seorang di antara mereka berkata, “Diantara kita ada, seorang nabi yang mengetahui apa yang bakal terjadi esok.’ Kemudian Beliau saw. bersabda, “Biarkan perempuan ini, Katakanlah apa saja yang hendak kau katakan.” (Shahih: Adabuz Zifaf hal.108, Fathul Bari IX:202 no:5147, ‘Aunul Ma’bud XIII:264 no:4901, Tirmidzi II:276 no:1096).

“Dan menurut sunnah (Nabi saw) apabila seseorang menikahi seorang gadis, bukan janda, maka ia menetap di rumahnya selama tujuh hari dan kemudian membagi giliran. Dan jika ia menikahi seorang janda bukan perawan, maka ia menetap di rumahnya tiga hari, kemudian membagi gilirannya.” Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Qilabah dari Anas r.a. dan Abu Qilabah berkata “Kalau aku mau, niscaya kukatakan: ‘Jika saya lupa niscaya saya marfu’kan kepada Nabi saw.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:314 no:5214, Muslim II:1084 no:1461, “Aunul Ma’bud VI:160 no:2110, Tirmidzi II:303 no:1148).

Sang suami wajib mempergauli isterinya dengan cara yang baik dan berjalan dengannya sesuai dengan apa yang telah Allah halalkan baginya, terutama bila sang isteri masih muda. Dalam hal ini banyak hadits Nabi saw, diantaranya,

“Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang terbaik di antara kalian kepada keluarga dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku.” (Shahih Jami’us Shaghir: no:3266 dan Tirmidzi V:369 no:3985).

Sabda Beliau lagi, “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:3265 dan Tirmidzi II:315 no:1172).

Dalam kesempatan yang lain, Beliau menegaskan, “Seorang Mukmin tidak boleh membenci seorang isteri perempuan. Kalau toh ia tidak menyukai sebagian akhlaknya, maka ia pasti menyukai sebagian yang lainnya.” (Shahih: Shahihul Jami’us no:7741, Muslim II:1091 no:1469).

Dalam khutbah wada’ Rasulullah saw. Bersabda, “Ketahuilah, sampaikanlah wasiat kebaikan dengan cara yang baik kepada kaum wanita sesungguhnya mereka (laksana tawanan perempuan) di sisi kalian dan kalian tidak memiliki kekuasaan sedikitpun terhadap mereka selain hal itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka (terbukti) melakukannya, maka hendaklah kalian pisah ranjang dengan mereka dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika mereka kembali ta’at kepada kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Ketahuilah sesungguhnya kalian mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh isteri kalian dan mereka pun memiliki hak yang wajib kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang harus mereka tunaikan ialah janganlah sekali-kali mereka mengizinkan orang yang kalian tidak sukai menyendiri bersama kalian dan jangan (pula) mereka mempersilakan orang yang kalian benci (masuk) ke rumah kalian. Dan hak mereka yang wajib kalian tunaikan adalah hendaklah kalian bersikap baik (tulus) kepada mereka dalam hal, menyediakan pakaian dan makanan mereka.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah no:1501, dan Tirmidzi II:315 no:1173).

Wajib bagi seorang suami untuk bersikap adil dan proporsional terhadap isteri-isterinya dalam hal makanan, tempat tinggal, pakaian dan giliran serta lain-lain yang berhubungan dengan materi. Jika ternyata ia lebih mengutamakan salah satu di antara mereka, maka ia terkena ancaman keras yang termaktub dalam sabda Nabi saw. , “Barangsiapa yang memiliki dua isteri sedangkan ia condong kepada salah satu dari keduanya, maka ia akan datang pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan tergeletak salah satu dari dua bagian tubuhnya.” (Shahih Ibnu Majah no:1603, Ibnu Majah I:633 no:1969 lafadz ini milik Ibnu Majah, ‘Aunul Ma’bud VI:171 no:2119 dan Tirmidzi II:304 no:1150, Nasa’i VII no:53).

Namun tidak mengapa manakala kecondongan itu hanya sebatas di dalam kalbu, mail qalbi (kecenderungan hati); karena hal ini diluar batas kemampuannya. Oleh karena itu, Allah berfirman, “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada isteri yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-latung.” (QS. an-Nisaa’:129).

Sungguh Rasulullah saw. bersikap adil dan proporsional kepada para isterinya dalam hal materi. Beliau tidak membeda-bedakan antara mereka Padahal Aisyah ra adalah isteri Beliau yang paling dicintai:

Dari Amr bin ‘Ash r.a. bahwa ia pernah diutus oleh Nabi saw. meminjam pasukan dalam perang Dzatus Salasil. Kemudian saya (Amr bin Ash) datang menemuinya lalu bertanya, “(Ya Rasulullah), siapakah orang yang paling engkau cintai?” Jawab Beliau, “Aisyah.” Kemudian aku bertanya (lagi), “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau menjawab “Bapaknya (Abu Bakar).” Saya bertanya lagi), “Kemudian siapa?” Sahut Beliau “Kemudian Umar bin Khattab’ Lalu Rasulullah menyebutkan beberapa sahabat yang lain.” (Shahih: Shahih Tirmidzi no:3046 dan Tirmidzi V:364 no:3972).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 556-567

:: HUKUM NIKAH :: Khutbah Nikah

Mac 24, 2009

Dianjurkan mengadakan khutbah seusai dilangsungkan akad nikah, khutbah inilah yang disebut khutbatul hajah yang redaksinya sebagai berikut:

picture0314vm1

“Segala puji milik Allah, kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya kami berlindung kepada Allah dari segala keburukan kami dan dari segenap kesalahan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tak seorangpun yang memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.”

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran:102).

“Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Robbimu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbikkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya, kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa’:1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya, Allah memperbaiki bagimu adalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.” (Al-Ahzaab:70-71).

Amma ba’du:

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah petunjuk yang paling baik adalah petunjuk dari Muhammad saw, dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang diada-adakan. Setiap sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di nerakalah tempatnya (Takhrij hadits ini sudah pernah dimuat di pembahasan khutbah Jum’at).

Dianjurkan Mengucapkan Tahniah (Selamat) Untuk Sang Pengantin

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. apabila mengucapkan selamat kepada pengantin, yaitu beliau mengucapkan :

“BAARAKALLAHU LAKUM WA BAARAKA’ALAIKUM WAJAMA’ABAINAKUMAA FII KHOIR”

(mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan menurunkan kebahagiaan atasmu, dan mempertemukan kamu berdua dalam kebaikan).” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1546, Ibnu Majah I:614 no:1905, dan lafadz ini milik Ibnu Majah, ‘Aunul Ma’bud VI:166 no:2116 dan Tirmidzi II:276 no:1097, namun menurut riwayat Abu Daud dan Tirmidzi menggunakan kata KA untuk orang dua tunggal).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 543 – 545

:: HUKUM NIKAH :: Mahar

Mac 24, 2009

Dalam hal ini Allah SWT berfirman,675378917

“Berikanlah maskawin mahar kepada perempuan (yang kau nikahi) sebagai pemberian dengan penuh karelaan, kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisaa’:4).

Mahar adalah menjadi hak penuh sang isteri yang harus ditunaikan oleh sang suami, dan ia menjadi hak miliknya. Tidak halal bagi seorangpun, baik bapaknya ataupun lainnya mengambil sebagian darinya kecuali dia redha.

Syariat Islam tidak menetapkan batas minimal dan batas maksimal mahar, namun ia mendorong agar memperingan mahar, tidak terlalu tinggi demi mempermudah urusan pernikahan. Sehingga generasi muda tidak merasa enggan melaksanakan pernikahan karena demikian banyak/besar tanggunannya.

Allah SWT berfirman,

” Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain sedang kamu telah memberkan seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambil kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dengan menanggung dosa yang nyata.” (An-Nisaa’:20).

Dari Anas bin Malik r.a. bahwa Abdurrahman bin Auf r.a. datang kepada Rasulullah saw. sedang pada dirinya terdapat tanda berwarna kuning. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepadanya, lalu Anas menjelaskan kepadanya bahwa dia sudah kawin dengan seorang perempuan dari Anshar, beliau bertanya, “Berapa nilai mahar yang kamu berikan kepada?” Jawabnya, “Emas sebesar hiji kurma.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Adakanlah walimah walaupun sekedar menyembelih seekor kambing,” (Muttaqin ‘alaih: Fathul Bari IX:221 no:5153, Muslim II:1042 no:1427, ‘Aunul Ma’bud VI:139 no:2095, Tirmidzi II:277 no:1100, Ibnu Majah I:615 no:1907 dan Nasa’i VI:119).

Dari Sahl bin Sa’id r.a. berkata, “Ketika kami berada di tengah-tengah para sahabat di dekat Rasulullah saw. tiba-tiba ada seorang perempuan berdiri, lalu menyatakan ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya ia (seorang perempuan) menghibahkan diri kepadamu, maka bagaimana pendapatmu tentangnya.’ Kemudian bangun (lagi) kedua kalinya, lalu mengatakan, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya ia benar-benar menghibahkan diri kepadamu maka lihatlah bagaimana pendapatmu.’ Kemudian bangunlah ia untuk ketiga kalinya, lantar berujar. ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya ia telah menghibahkan diri kepadamu maka perhatikanlah ia bagaimana pendapatmu.’ Maka bangunlah seorang sabahat, lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya. Kemudian beliau bertanya, “Apakah engkau mempunyai barang sebagai mahar?” Jawabnya, ‘Belum.’ Maka, sabda beliau, “Pergilah mencari walaupun sekedar cincin yang terbuat dari besi,” Maka dia pergi mencarinya. Kemudian datang lalu berkata (kepada beliau), ‘Aku tidak mendapatkan apa-apa, walaupun sekedar cincin dari besi,’ Sabda beliau selanjutnya, “Apakah engkau punya hafalan Al-Qur’an?” Dia menjawab, ‘Saya hafal surah ini dan surah ini,’ Sabda Beliau (lagi), “Pergilah, sungguh saya telah nikahkan kamu dengannya mahar hafalan Qur’anmu.” (Muttafaqun Shahih: Fathul Bari, IX:205 no:5149 dan ini lafadz bagi Imam Bukhari, Muslim II:1040 no:1425, ‘Aunul Ma’bud VI:143 no:2097, Tirmidzi II:290 no:1121, Ibnu Majah I:608 no: 1889 secara ringkas dan Nasa’i VI:123).

Dan dibolehkan segera membayar mahar secara tunai, atau seluruhnya dibayar belakangan dan boleh juga sebagiannya dibayar tunai dan sebagiannya lagi dikredit (dibayar kemudian). Suami boleh menggauli isterinya, walaupun dia belum membayar sama sekali maharnya, kepada sang isteri, bila maskawinnya belum ditetapkan.

Apabila maharnya sudah ditetapkan, maka dia harus membayar mahar yang telah ditetapkan kepada isterinya. Waspada dan waspadalah jangan sampai kita tidak membayar mahar yang telah disepakati karena Rasulullah saw. bersabda,

“Syarat-syarat yang paling berhak kalian sempurnakan ialah kalian menyempurnakan mahar yang dengannya kalian telah menghalalkan kehormatan isteri kalian.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:217 no:5151, Muslim I:20 :1035 noa;1418, ‘Aunul Ma’bud VI:176 no:2125, Ibnu Majah I:628 no:1954, Tirmidzi II:298 no:1137 dan Nasa’i VI:92).

Bilamana sang suami meninggal dunia setelah dilangsungkan akad nikah sebelum bercampur dengan isterinya, maka maharnya tetap menjadi hak milik penuh sang isteri.

Dari Al-Qamah r.a. berkata, “Pernah dibawa kepada Abdullah bin Mas’ud seorang perempuan yang sudah dikawini oleh seorang laki-laki, lalu sang suami meninggal dunia sebelum menetapkan maharnya dan belum bercampur dengannya. Kemudian (keluarga kedua belah pihak) mengadu kepada Abdullah, dan dia berkata, Menurut hemat saya (Abdullah), mahar untuk sang isteri seperti besarnya nilai maskawin kaum wanita di negerinya. Ia berhak mendapatkan warisan (dari kekayaan suaminya) dan ia harus menjalankan masa iddahnya.’ Ma’qil bin Sinan al-Asyja’i r.a. bersaksi bahwa Nabi saw. pernah memutuskan untuk Barwa binti Wasyiq seperti yang diputuskan oleh Abdullah.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1939 Tirmidzi II:306 no:1154,’ ‘Aunul Ma’bud VI:147 no:2100, Ibnu Majah I:609 no:1891 dan Nasa’i VI:121).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 545-549

:: HUKUM NIKAH :: Akad Nikah

Mac 24, 2009

Akad nikah memiliki dua rukun, yaitu ijab, penyerahan dan qabul. Adapun syarat sahnya pernikahan adalah:3650203766

a. Persetujuan dari wali

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap perempuan yang tidak dinikahkan oleh walinya, maka  nikahnya bathil, maka.nikahnya bathil, maka nikahnya bathil; jika terlanjur kawin berhak mendapatkan maharnya, karena ia sudah digauli, jika mereka berselisih pendapat, maka hakimlah yang berwenang menjadi wali perempuan yang tidak memiliki wali.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1524, Ibnu Majah I:605 no:1879 dan lafadz ini baginya, ‘Aunul Ma’bud VI:98 no:2069, Tirmidzi II:280 no:1108, dan lafadz Abu Daud dan Tirmidzi berbunyi: FA IN DAKHALA BIHAA ‘jika sang suami sudah menggaulinya,’ …. FA INISYTAJARUU ‘jika mereka bertentangan.’)

b. Kehadiran para saksi

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sama sekali tidak nikah, kecuali direstui wali dan (dihadiri) dua saksi yang adil.” (Shahih: Shahih Jami’us Shaghir no:7557, Baihaqi VII:125, Shahih Ibnu Hibbah hal.305 no:1247).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 541

:: HUKUM NIKAH :: Wajib Minta Izin Kepada Sang Gadis Sebelum Dinikahi.

Mac 24, 2009

Manakala tidak sah pernikahan kecuali direstui oleh wali, maka sang wali wajib minta izin kepada perempuan yang hendak dikawinkan sebelum dilangsungkan akad nikah. Tidak boleh seorang wali memaksa perempuan untuk dinikahkan, bila ia tidak ridha. Jika sang wali tetap bersikap melangsungkan akad nikah padahal ia tidak ridha, maka ia berhak mengajukan pembatalan pernikahannya.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapatnya dan tidak boleh (pula) seorang gadis dinikahkan hingga dimintai persetujuannya.” Para sahabat pada bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana bentuk persetujuannya itu?” Jawab beliau, “Yaitu dia diam (ketika dimintai persetujuan).” (Muttafaqun ‘alaih: IX:191 no:2166 Muslim II:1036 no:1419, ‘Aunul Ma’bud VI:115 no:2078, Tirmidzi II:236 no:1113, Ibnu Majah I:601 no:1871 dan Nasa’i VI:85).

tandatangan-pengantin

Dari Khansa’ binti Khiddam al-Anshariyah radhiyallahu’anha bahwa ayahnya pernah mengawinkanya sedang ia dalam keadaan janda, maka ia tidak mau. Kemudian ia datang menemui Rasulullah saw., maka kemudian beliau membatalkan pernikahannya.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 0830, fathul Bari IX: 194 no: 5138,’Aunul Ma’bud VI: 127 no: 2087, Ibnu Majah I: 602 1873 dan Nasa’I VI: 86).

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa ada seorang gadis datang kepada Nabi saw., lalu mengadu bahwa bapaknya telah mengawinkan dirinya padahal ia tidak mau, maka kemudian Nabi saw. menyerahkan sepenuhnya kepadanya antara membatalkan perkawinannya atau meneruskannya.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah:1520, ‘Aunul Ma’bud VI: 120 no:2082, dan Ibnu Majah I:603 no:1875).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz,  atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 542-543

:: HUKUM NIKAH :: Khithbah (Meminang)

Mac 24, 2009

melamar2

Khithbah (pinangan) ialah ajakan kawin kepada seorang perempuan dengan wasilah yang sudah dikenal oleh masyarakat luas, jika ada kecocokan maka terjadilah perjanjian akan menikah. Perlu diingat, tidak halal bagi seorang muslim melamar perempuan yang sudah dipinang saudaranya, ini didasarkan pada pernyataan Ibnu Umar r.a..

Nabi saw. melarang sebagian di antara kamu menjual di atas jualan sebagai yang lain, dan tidak boleh (pula) seorang laki-laki melamar perempuan yang sudah dipinang saudaranya, sampai sang peminang memutuskannya terlebih dahulu atau sang peminang mengizinkannya (melamar bekas tunangannya).” (Shahih: Shahih Nasa’I no:3037, Fathul Bari IX:198 no:5142, dan Nasa’I VI:73).

Tidak boleh juga seorang muslim meminang wanita yang sedang menjalani masa iddah karena thalaq raj’i karena ia masih berada di bawah kekuasaan mantan suaminya; sebagaimana tidak boleh juga melamar secara terang-terangan wanita yang menjalani masa iddah, karena thalaq bain atau karena ditinggal mati oleh suaminya, namun tidak mengapa ia melamarnya secara sindiran. Hal ini mengacu kepada firman Allah SWT,

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikannya (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu.” (Al-Baqarah:235).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz,Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah atau , terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 540-541

:: HUKUM NIKAH :: PEREMPUAN YANG HARAM DINIKAHI

Mac 24, 2009

Allah SWT berfirman,

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu terkecuali pada masa yang telah lampai. Sesungguhnya perbuatan itu amatlah dan dibenci Allah dan seburuk-buruknya jalan (yang ditempuh).

Diharamkan atas kamu (mengenai) ibu-ibumu; anak-anak yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudara yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang sudah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campuri dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu);, dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri yang telah kamu nikahi (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa:22-24).

Dalam tiga ayat diatas Allah SWT menyebutkan perempuan-perempuan yang haram dinikai. Dengan mencermati firman Allah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa tahrim, pengharaman’ ini terbagi dua:

Pertama: Tahrim Muabbad (pengharaman yang berlaku selama-lamanya), yaitu seorang perempuan tidak boleh menjadi isteri seorang laki-laki di segenap waktu.

Kedua: Tahrim Muaqqat (pengharaman yang bersifat sementara), jika nanti keadaan berubah, gugurlah tahrim itu dan ua menjadi halal.

Sebab-sebab tahrim muaqqad (pengharaman selamanya) ada tiga: pertama karena nasab, kedua haram mushaharah (ikatan perkawinan) dan ketiga karena penyusuan.

Pertama: perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena nasab adalah :

1. Ibu

2. Anak perempuan

3. Saudara perempuan

4. Bibi dari pihak ayah (saudara perempuan ayah)

5. Bibi dari pihak ibu (saudara perempuan ibu)

6. Anak perempuan saudara laki-laki (keponakan)

7. Anak perempuan saudara perempuan).

Kedua: perempuan-perempuan yang haram diwakin karena mushaharah adalah :

1. Ibu istri (ibu mertua), dan tidak dipersyaratkan tahrim ini suami harus dukhul “bercampur” lebih dahulu. Meskipun hanya sekedar akad nikah dengan puterinya, maka sang ibu menjadi haram atau menantu tersebut.

2. Anak perempuan dari isteri yang sudah didukhul (dikumpul), oleh karena itu, manakala akad nikah dengan ibunya sudah dilangsungkan namun belum sempat (mengumpulinya), maka anak perempuan termasuk halal bagi mantan suami ibunya itu. Hal ini didasarkan pada firman Allah,

“Tetapi kalian belum bercampur dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian campur), maka tidak berdosa kalian menikahinya.” (An-Nisaa:23).

3. Isteri anak (menantu perempuan), ia menjadi haram dikawini hanya sekedar dilangsungkannya akad nikah.

Isteri bapak (ibu tiri) diharamkan ats anak menikahi isteri bapak dengan sebab hanya sekedar terjadinya akad nikah dengannya.

Ketiga: perempuan-perempuan yang haram dikawini karena sepersusuan.

Allah SWT berfirman yang artinya,

“Ibu-ibu kalian yang pernah menyusui kalian; saudara perempuan sepersusuan.” (An-Nisaa’:23).

Nabi saw. bersabda, “Persusuan menjadikan haram sebagaimana yang menjadi haram karena kelahiran.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:139 no:5099, Muslim II:1068 no:1444, Tirmidzi II:307 no:1157, ‘Aunul Ma’bud VI:53 no:2041 dan Nasa’i VI:99). Hal.570

Oleh karena itu, ibu sepersusuan menempati kedudukan ibu kandung, dan semua orang yang haram dikawini oleh anak laki-laki dari jalur ibu kandung, haram pula dinikahi bapak sepersusuan, sehingga anak yang menyusui kepada orang lain haram kawin dengan:

1. Ibu susu (nenek)

2. Ibu Ibu susu (nenek dari pihak Ibu susu)

3. Ibu Bapak susu (kakek)

4. saudara perempuan ibu susu (bibi dari pihak ibu susu)

5. Saudara perempuan bapak susu

6. cucu perempuan dari Ibu susu

7. Saudara perempuan sepersusuan

Persusuan Yang Menjadikan Haram

Dari Aisyah r.anha bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak bisa menjadikan haram, sekali isapan dan dua kali isapan.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:2148, muslim II: 1073 no:1450,Tirmidzi II: 308 no: 1160’Aunul Ma’bud VI: 69 no: 2049, Ibnu Majah I: 624 no:1941, Nassa’i VI:101).

Dari Aisyah r.anha berkata, “Adalah termasuk ayat Qur’an yang diwahyukan. Sepuluh kali penyusuan yang tertentu menjadi haram. Kemudian dihapus (ayat) ayat yang menyatakan lima kali penyusuan tertentu sudah menjadi haram. Kemudian Rasulullah saw wafat, dan ayat Qur’an itu tetap di baca sebagai bagian dari al-Qur’an.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no:879m Muslim II:1075 no:1452, ‘Aunul Ma’bud VI:67 no:2048, Tirmidzi II:308 no:1160, Ibnu Majah II:625 no:1942 sema’na dan Nasa’i VI:100).

Dipersyaratkan hendaknya penyusuan itu berlangsung selama dua tahun, berdasar firman Allah,

Para Ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. al-Baqarah :233)

Dari Ummu Salamah r.anha bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak menjadi haram karena penyusuan, kecuali yang bisa membelah usus-usus di payudara dan ini terjadi sebelum disapih.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:2150 dan Tirmidzi II:311 no:1162).

Perempuan-Perempuan Yang Haram Dinikahi Untuk Sementara Waktu

1. Mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara

Allah SWT berfirman,

“Dan menghimpun (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada mada lampau.” (An-Nisaa’:23).

2. Mengumpulkan seorang isteri dengan bibinya dari pihak ayah ataupun dari pihak ibunya.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak boleh dikumpulkan (dalam pernikahan) antara isteri bibinya dari pihak ayah dan tidak (pula) dari ibunya.” (Muttafaqun ‘alaih: II:160, Tirmidzi II:297 no:11359 Ibnu Majah I:621 no:1929 dengan lafadz yang sema’na dan Nasa’i VI:98).

3. Isteri orang lain dan wanita yang menjalani masa iddah.

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki.” (An-Nisaa’ :24).

Yaitu diharamkan bagi kalian mengawini wanita-wanita yang berstatus sebagai isteri orang lain, terkecuali wanita yang menjadi tawanan perang. Maka ia halal bagi orang yang menawannya setelah berakhir masa iddahnya meskipun ia masih menjadi isteri orang lain.

Hal ini mengacu pada hadits dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus pasukan negeri Authas. Lalu mereka berjumla dengan musunya, lantar mereka memeranginya. Mereka berhasil menaklukkan mereka dan menangkap sebagian di antara mereka sebagai tawanan.

Sebagian dari kalangan sahabat Rasulullah saw merasa keberatan untuk mencampuri para tawanan wanita itu karena mereka berstatus isteri orang-orang musyrik. Maka kemudian Allah SWT pada waktu itu menurunkan ayat,

“Dan (diharamkan pula kamu mengawini) wanita-wanita bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki. ‘Yaitu mereka halal kamu campuri bila mereka selesai menjalani masa iddahnya.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no:837, Muslim II:1079 no:1456, Trimidzi IV: 301 no:5005, Nasa’i 54 VI:110 dan ‘Aunul Ma’bud VI:190 no:2141).

4. Wanita yang dijatuhi talak tiga

Ia tidak halal bagi suaminya yang pertama sehingga ia kawin dengan orang lain dengan perkawinan yang sah.

Allah SWT berfirman,

“Kemudian jika si suami mentalaqnya (ssudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (Al-Baqarah :230).

5. Kawin dengan wanita pezina

Tidak halal bagi seorang laki-laki menikahi wanita pezina, demikian juga tidak halal bagi seorang perempuan kawian dengan seorang laki-laki pezina, terkecuali masing-masing dari keduanya tampak jelas sudah melakukan taubat nashuha.

Allah menegaskan,

“Laki-laki yang berzina tidak boleh mengawini kecuali perempuan berzina atau perempuan musryik; dan perempuan yang berzina tidak boleh dikawini melainkan oleh laki-laki berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (An-Nuur : 3).

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayanya dari datuknya bahwa Martad bin Abi Martad al-Ghanawi pernah membawa beberapa tawanan perang dari Mekkah dan di Mekkah terdapat seorang pelacur yang bernama ‘Anaq yang ia adalah teman baginya. Ia (Martad) berkata, “Saya datang menemui Nabi saw. lalu kutanyakan kepadanya “Ya Rasulullah bolehkah saya menikah dengan ‘Anaq Mak Beliau diam, lalu turunlah ayat, “Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Kemudian Beliau memanggilku kembali dan membacakan ayat itu kepadaku, lalu bersabda, “Janganlah engkau menikahinya.” (Hasanul Isnad: Shahih Nasa’i no:3027, ‘Aunul Ma’bud VI:48 no: 2037, VI:66 dan Tirmidzi V:10 no:3227).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 567 – 575

:: HUKUM NIKAH :: Calon Isteri Ideal

Mac 24, 2009

Barangsiapa yang ingin menikah maka pilihlah calon istri yang memiliki sifat dan kriteria sebagai berikut:

1.      Perempuan yang ta’at beragama, ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. bersabda,

“Perempuan dinikahi karena empat faktor: (pertama) karena harta bendanya, (kedua) karena kemulyaan leluhurnya, (ketiga) karena kecantikannya), dan (keempat) karena kepatuhannya kepada agamanya, maka utamakanlah perempuan yang ta’at kepada agamanya; (jika tidak), pasti celaka kamu.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:132 no: 5090, Muslim II:1086 no:1466, ‘Aunul Ma’bud VI:42 no:2032, Ibnu Majah I:597 no:1858 dan Nasa’i VI:68).

98045281wc2

2.      Sebaiknya perawan, kecuali memang ada kemashlahatan sehingga patut menikah dengan janda, berdasarkan hadits, dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, pada masa Rasulullah saw. saya pernah kawin dengan seorang wanita muda, kemudian bertemu Nabi saw. lalu beliau bertanya,

“Ya Jabir, sudahkah engkau kawin?” Saya jawab, “Ya (sudah).” Beliau bertanya (lagi), “Perawan atau janda?” Saya jawab,” Janda.” Tanya beliau (lagi), “Mengapa engkau tidak (menikah) dengan perawan, engkau bisa bercumbu rayu dengannya?” Saya menjawab, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai beberapa saudara perempuan, saya merasa khawatir kalau seorang gadis yang berada di antara kami dan mereka (akan timbul masalah, yang tidak diinginkan).” Maka sabda beliau, “Maka kalau begitu (alasanmu) pantas untukmu. Sesungguhnya perempuan dinikahi karena agamanya, harta bendanya, dan kecantikannya. Maka hendaklah kamu mengutamakan perempuan yang ta’at kepada agamanya. (jika tidak) pasti celaka kamu,” (Muttafaqun ‘alaih: Muslim II:1087 no:715, lafadz ini baginya, dan yang sema’na, dengan riwayat ini, tanpa kalimat terakhir, diriwayatkan oleh Imam, Bukhari dalam Fathul Bari IX:125 no:5079, ‘Aunul Ma’bud VI:43: no:2033, Tirmidzi II:280 no:1106, Ibnu Majah I:598 no:1860 Nasa’i VI:65 dengan lafadz yang sama dengan yang diriwayatkan Imam Muslim dengan sedikit tambahan).

3.     Perempuan yang subur. Berdasarkan hadits Dari Anas r.a. dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Kawinlah perempuan yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan besarnya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:294, Irwa-ul Ghalil no:1784, ‘Aunul Ma’bud VI:47 no:2035 dan Nasa’i VI:65).


:: HUKUM NIKAH :: Melihat Gadis Yang Akan Dilamar (Ta’aruf)

Mac 24, 2009

Barangsiapa yang di dalam lubuk hatinya tertancap keinginan untuk meminang seorang wanita, maka disyari’atkan baginya untuk melihatnya sebelum dilamar secara resmi.

Hal ini berdasarkan hadits dari Muhammad bin Maslamah r.a. berkata, “Saya pernah melamar seorang perempuan, maka sebelum melamar saya sembunyi-sembunyi sampai bisa melihatnya dari balik pohon kurma yang menjadi penghalang dari penglihatannya.” Kemudian ada yang berkata kepada Muhammad bin Maslamah. “Patutkah engkau melakukan hal ini padahal engkau adalah sahabat Rasulullah saw.,” Maka jawabnya, “Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Manakala Allah meletakkan di dalam hati seorang laki-laki keinginan untuk melamar seorang perempuan, maka tidak mengapa ia melihatnya.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1510 dan Ibnu Majah I:599 no:1864).

taaruf

Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a. berkata, saya pernah datang menemui Nabi saw. lalu saya menyebutkan (nama) seorang perempuan yang hendak kulamar kepada beliau, kemudian Rasulullah saw. bersabda,

“Pergilah (ke sana), lalu lihatlah.dia, karena sesungguhnya melihat terlebih dahulu itu lebih bisa mengekalkan jalilan kasih sayang diantara kamu berdua.” (Shahih: Shahih Tirmidzi no:868, Nasa’I VI:69, dan lafadz ini baginya, Tirmidzi II:275 no:1093 dengan lafadz FAIN NAHUU AHRAA ‘lebih patut’).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 539-560

:: HUKUM NIKAH :: Menikah Seorang Wanita Dengan Niat Sang Suami Untuk Menceraikan Isterinya

Mac 24, 2009
Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 576 – 580

Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah II:38 mengatakan bahwa para fuqaha’ para pakar fiqih sepakat bahwa barangsiapa menikahi seorang perempuan tanpa menetapkan syarat penentuan batas waktu yang jelas namun didalam hatinya tersirat niat hendak menceraikannya kembali setelah jangka waktu yang tidak tertentu atau sesudah yang bersangkutan selesai menjalankan tugas di suatu negeri di mana di situ dia menetap sementara maka, perkawinannya sah. Akan tetapi Imam al-Auza’i menyelisihi dan menganggap perkawinan tersebut sebagai kawin mut’ah.

Syaikh Rasyid Ridha memberi komentar terhadap persoalan ini dalam Tafsir al-Manar dengan menulis, “Demikian permasalahan ini, mengingat akan kerasnya ulama’ salaf dan khalaf mencegah kita dari melakukan kawin mut’ah, larangan keras tersebut juga meliputi larangan nikah dengan niat hendak menceraikannya kembali. Meski para ahli fiqh berpendapat, bahwa akad nikah ini sah, bila seorang laki-laki kawin untuk sementara waktu namun dalam redaksi akad nikah tidak dipersyaratkan batas waktunya yang jelas.”

bep9e

Namun penyembunyian niat hendak mencerai kembali itu termasuk penipuan dan pengelabuan, bahkan ia lebih patut menjadi penyebab batalnya perkawinan ini daripada sekedar akad nikah yang didalamnya ditentukan syarat pembatasan waktu yang saling diridhai oleh kedua mempelai dan walinya yang mana di dalamnya tidak terkandung mafsadah kecuali sekedar mempermainkan ikatan yang agung ini yang merupakan ikatan kemanusiaan yang paling besar dan hanya untuk memuaskan nafsu seksual dawwaqin (para laki-laki tukang cicip) dan dzawwaqat (para perempuan tukang cicip), yang kesemuanya itu pasti akan melahirkan aneka bentuk kemungkaran.

Adapun pernikahan yang didalamnya tidak dipersyaratkan penentuan batas masa berlakunya berarti mengandung unsur penipuan dan pengelabuan, sehingga akan menimbulkan berbagai kerusakan yang lain yang berupa permusuhan, kebencian dan hilangnya kepercayaan walaupun kepada orang-orang yang jujur yang hendak melaksanakan akad nikah dengan sesungguhnya yang dimaksudkan sebagai membentengi bagi masing-masing dari kedua mempelai terhadap pasangannya dan.memupuk sikap ikhlash suami kepada isterinya dan begitu sebaliknya serta memperkokoh hubungan kerjasama antara keduanya dalam menegakkan salah satu rumah tangga yang shalih di tengah masyarakat yang baik.” selesai.

Penulis berkata:

Pendapat Syaikh Rasyid Ridha ra ini diperkuat oleh atsar berikut:

Dari Umar bin Nafi dari bapaknya (yaitu Nafi’) bahwa ia berkata, Ada seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar r.a. lalu bertanya perihal seorang laki-laki yang mentalak tiga isterinya, kemudian dikawin oleh saudaranya tanpa minta persetujuan kepadanya supaya dia (perempuan itu) menjadi halal lagi bagi saudaranya. Apakah dia halal bagi suami yang pertama?” Maka jawab Ibnu Umar, “Tidak’ (halal), kecuali pernikahan yang didasarkan cinta yang tulus. Dahulu, pada masa Rasulullah saw. kami menganggap pernikahan seperti ini perzinahan.” (Teks Arab dan Takhirj hadits telah dimuat di beberapa halaman sebelumnya).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 580 – 581

:: HUKUM NIKAH :: PERKAHWINAN YANG BATHIL

Mac 24, 2009

1. Nikah Syighar:

Nikah Syighar ialah seorang laki-laki mengawinkan puterinya, atau saudara perempuannya, atau selain keduanya yang termasuk di dalam kawasan perwaliannya dengan orang lain dengan syarat orang lain termasuk atau puterinya, atau putera saudaranya menikahkan dia (laki-laki pertama) dengan puterinya, atau saudara perempuannya, atau puteri saudara perempuannya,atau dengan yang semisal dengan mereka.

Akad nikah semacam ini, fasid (batal) baik disebutkan maharnya atau pun tidak. Sebab Rasulullah saw sudah mencegah kita darinya dan sudah (mengingatkan) mewanti-wanti agar kita waspada terhadapnya.

Allah SWT berfirman,

“Dan, apa saja yang Rasulullah saw bawa kepada kalian, maka ambillah dan apa saja yang Beliau cegah kalian darinya, maka jauhilah.” (Al-Hasr:7).

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi saw. pernah melarang kawin Syghar.” (Muttafaqun ‘alaih: Mukhtashar Muslim no:8089 fathul Bari IX:162 no:5112, Muslim II : 1034 no:1415,dan Nasa’i VI:112).

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah mencegah (kita) dan kawin syighar. Nikah syghar itu adalah seorang laki-laki mengatakan kepada laki-laki lain, “Nikahkan aku dengan puterimu, maka aku akan menikahkanmu dengan puteriku.” Atau “Nikahkan Aku dengan saudara perempuanmu, maka aku mengawinkan dengan saudara perempuanku.” (Shahih: Mukhtasar Muslim no:808 dan Muslim II:1035 no:1416)..

Nabi saw. bersabda, “Sama tidak ada kawin syaghar dalam Islam.” (Shahih: Shahihul Jami’ no: 7501, Muslim II:1035 no:60/1415).

Dengan demikian, hadits-hadits yang shahih ini dengan tegas menunjukkan tahrim (pengharaman) dan rusaknya nikah syghar dan ia menyelisihi syari’at Allah Ta’ala dan Nabi saw, tidak pernah membedakan antara nikah syighar yang maharnya disebutkan dengan yang tidak disebutkan maharnya sedikitpun.

Adapun apa yang terdapat dalam hadits riwayat Ibnu Umar (Mukhtashar Muslim no:808, Fathul Bari IX:162 no:5112, Muslim II:1034 no:1415 dan Nasa’i VI: 112) tentang penafsiran nikah syighar, yaitu seorang laki-laki menikahkan puterinya dengan dia dan kedua perkawinannya ini tidak memakai mahar.

Penafsiran ini telah dijelaskan oleh ahli Ilmu bahwa perkataan tersebut berasal dari perkataan Nafi’ yang meriwayatkan dari Ibnu Umar. Bukan berasal dari sabda Nabi saw. Nabi saw. sendiri telah menjelaskan pengertian nikah syighar dalam hadits Abu Hurairah sebagaimana yang telah disebutkan diatas yakni seorang laki-laki menikahkan puterinya, atau saudaranya dengan orang lain dengan catatan orang tersebut mengawinkan dia dengan puterinya, atau saudara perempuannya dan beliau tidak mengatakan, dalam perkawinan ini tidak ada mahar.

Maka yang demikian itu menunjukkan bahwa ditentukan hukum nikah syighar itu. Sesungguhnya yang mengakibatkan fasad rusaknya perkawinan syighar ini adanya syarat mubadalah (tukar menukar), dan dalam praktik nikah (yang bathil ini) terdapat kerusakan yang besar karena perkawinan semacam ini mengakibatkan pemaksaan terhadap para wanita menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, untuk mengutamakan kepentingan para wali dan mengabaikan kemashlahatan kaum perempuan.

Yang demikian itu adalah perbuatan mungkar dan tindak kedhaliman terhadap para wanita dan hal itu juga mengakibatkan terhalangnya kaum wanita untuk mendapatkan terjadi ditengah-tengah masyarakat yang mempraktikkan akad yang mungkar lagi keji ini, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah.

Sebagaimana hal itu pula sering kali mengakibatkan perselisihan dan permusuhan setelah perkawinan.

Dan ini adalah bagian dari sanksi yang diberikan Allah dengan cepat bagi orang-orang yang menyelisihi syari’at. (Lihat Risalah Hukmaus Sufa Wal-Hijab Wa Nikahisy Syighar oleh Samahatusy Syaikh Abdullah bin Baa ra).

2. Nikah Muhallil

Nikah Muhallil ialah seorang laki-laki mengawini seorang wanita yang sudah ditalak tiga setelah berakhir masa iddahnya, kemudian dia mentalaknya lagi supaya mejadi halal kawin lagi dengan mantan suaminya yang pertama.

Praktik pernikahan ini termasuk dosa besar dan tergolong perbuatan keji,yang tidak diperbolehkan keras, baik kedua laki-laki yang bersangkutan itu menentukan syarat ketika akad nikah atau mereka berdua sepakat sebelum terjadi akad nikah untuk segera mentalaknya kembali, atau salah satu dari keduanya berniat di dalam hatinya untuk mencerainya lagi. Pelaku pernikahan ini dila’nat oleh Rasulullah saw sebagaimana sabdanya:

Dari Ali r.a. berkata, “Rasulullah saw. melaknat muhallil (yaitu orang yang menikahi seorang wanita dan menceraikannya dengan niatan supaya wanita itu menjadi halal kembali bagi suami yang pertama.) dan Muhallallahu (yakni orang yang meminta muhallil melakukan pernikahan tersebut mantan suami).” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:5101, ‘Aunul Ba’bud VI:88 no:6062, Tirmidzi II:294 no:1128 dan Ibnu Majah I: 622 no:1935).

Dari ‘Uqbah bin Amir bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kujelaskan kepada kalian tentang kambing hutan pinjaman?” Para sahabat menjawab, “Mau, ya Rasulullah,” Lanjut Beliau “Yaitu muhallil, Allah telah mela’nat muhallil dan muhallallah,” (Hasan: Shahih: Ibnu Majah no:1572, Ibnu Majah I:623 no:1936 dan Mustadrak Hakim II:198 serta Baihaqi VII:208).

Dari Umar bin Nafi’ dari bapaknya bahwa ia bertutur, “Telah datang seorang laki-laki kepada Ibnu Umar r.a. lalu bertanya kepadanya perihal seorang suami yang menjatuhkan talak tiga terhadap isterinya. Kemudian saudara laki-laki menikahinya, tanpa perintah darinya agar wanita itu menjadi halal kembali bagi saudaranya (yaitu suami pertama). Lalu apakah wanita itu halal bagi suami yang pertama itu? Maka jawab Ibnu Umar, “Tidak (halal), kecuali nikah yang didasari cinta yang tulus. Dahulu, pada masa Rasulullah saw. kami menganggap pernikahan seperti ini perzinahan.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil VI:311, Mustadrak Hakim II:199 dan Baihaqi VII:208).

3. Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah disebut juga zawaj muaqqat (kawin sementara) dan zawaj munqaihl (kawin kontrak), yaitu seorang laki-laki menyelenggarakan akad nikah dengan seorang perempuan untuk jangka waktu sehari, atau sepekan, atau sebulan batasan-batasan waktu lainnya yang telah diketahui.

Dan ini adalah perkawinan yang sudah disepakati akan keharamannya dan jika seorang mengadakan akad nikah semacam ini berarti ia terjerumus pada perbuatan yang bathil (lihat Fiqhus Sunnah II:35).

Dari Sabrah ra, ia berkata, “Kami pernah diperintah oleh Rasulullah saw melakukan kawin mut’ah pada tahun penaklukkan ketika kami masuk mekkah kemudian kami tidak keluar (meninggal Mekkah) sehingga, kami dilarang kembali dari kawin mut’ah.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no:812 dan Muslim II:1023 no:1406).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul


:: HUKUM NIKAH ::

Mac 24, 2009

Nikah termasuk sunnah para rasul yang sangat ditekankan. Allah SWT berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (Ar-Ra’d:38).

1_175164383lDan dianggap makruh meninggalkan nikah tanpa ‘udzur, berdasarkan hadits Anas bin Malik ra, ia berkata, “Telah datang tiga (sahabat) orang ke rumah isteri-isteri

Nabi saw., mereka bertanya tentang ibadah Rasulullah saw.. Maka tatkala dijelaskan kepada mereka seolah-seolah mereka beranggapan ibadah mereka sedikit (kalau dihubungkan dengan kondisi mereka), lalu mereka berkata, “Apakah artinya kita, jika dibandingkan dengan Rasulullah? Sungguh beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.” Kemudian salah satu di antara mereka berkata, “Adapun saya, maka saya akan shalat semalam suntuk selama-lamanya.”

Yang lain mengatakan, “saya akan berpuasa sepanjang masa, dan tidak akan berbuka.”

Yang lain (lagi) mengatakan, “Saya akan menjauhi perempuan, dan tidak akan kawin selama-lamanya.”

Tak lama kemudian datanglah Rasulullah saw. lalu bertanya,

“Kalian yang menyatakan begini dan begini? Demi Allah, sungguh saya adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan yang paling bertakwa di antara kalian kepada-Nya; Namun saya berpuasa, dan juga berbuka, saya mengerjakan shalat dan juga tidur, dan (juga) menikahi perempuan termasuk dari golonganku.”

(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:104 no:5063 dan lafadz ini bagi Imam Bukhari, Muslim II:1020 no:1401 dan Nasa’i VI:60).

Namun nikah menjadi wajib atas orang yang sudah mampu dan ia khawatir terjerumus pada perbuatan zina. Sebab zina haram hukumnya, demikian pula hal yang bisa mengantarkannya kepada perzinaan serta hal-hal yang menjadi pendahulu perzinaan (misalnya; pacaran, pent.) Maka, barangsiapa yang merasa mengkhawatirkan dirinya terjerumus pada perbuatan zina ini, maka ia wajib sekuat mungkin mengendalikan nafsunya. Manakala ia tidak mampu mengendalikan nafsunya, kecuali dengan jalan nikah, maka ia wajib melaksanakannya.” (tulis pengarang kitab as-Salul Jarrar II:243).

Barangsiapa yang belum mampu menikah, namun ia ingin sekali melangsungkan akad nikah, maka ia harus rajin mengerjakan puasa, hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud bahwa Nabi saw. pernah bersabda kepada kami,

“Wahai para muda barangsiapa yang telah mampu menikah di antara kalian, maka menikahlah, karena sesungguhnya kawin itu lebih menundukkan pandangan dan lebih membentengi kemaluan: dan barangsiapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa; karena sesungguhnya puasa sebagai tameng.”

(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IX:112 no:5066. Muslim II:1018 no:1400, ‘Aunul Ma’bud VI:39 no:2031, Tirmidzi II:272 no:1087, Nasa’i VI:56 dan Ibnu Majah I:592 no:1845).

Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 532 — 534.

LOVE IS CINTA

.:: Karena CINTA Kita Selalu Ada ::.

ephyria

my life my world

My Pain, My Life, My Struggles, My Fight

Come walk with me, Down My Dark & Stormy Journey BUSINESS INQUIRIES & CONTACT EMAIL : GODSCHILD4048@GMAIL.COM

Dunia Penyair ~ Himpunan Puisi Klasik Dan Moden Sepanjang Zaman

~ Koleksi Puisi Klasik Dan Moden Yang Segar Sepanjang Zaman ~

DAPUR IZZI

~ My Kitchen Dictionary ~

IZZI BAKERY

The Greatest Homemade Products

.::Ketika CINTA Bertasbih::.

.... saat beralun qasidah KASIH....

YOEDA BIKE

Bengkel Sepeda Gowes

Bengkel Sepeda Gowes

- SEPEDA GOWES -

PUISI SURGA

Sekadar Merekam Suara Hati

@yogicahyadhi | @jogjarunaway

Travel - Photography - Jogja Trip

yuliartivk

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

ISLAM SYIAH

Meluruskan Pemahaman Tentang Islam Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asyariyah (Jakfariyah)

bcrita.com

Berbagi Cerita dan Informasi Bermanfaat

Didik Rahmadi

Aku menulis untuk ku ingat kembali

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Agnez Simple But Incredible

A fine WordPress.com site