:: HUKUM NIKAH :: WALI HAKIM- Dibolehkan dlm Situasi Tertentu


wali hakim

Wali hakim bertindak sebagai wali kepada pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali. Menurut Seksyen 2(1) Akta Undang-Undang Keluarga Islam Wilayah Persekutuan, Wali Hakim bererti wali yang ditauliahkan oleh Yang diPertuan Agong dalam hal Wilayah Persekutuan, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak atau oleh Raja dalam hal sesuatu negeri lain, untuk mengahwinkan perempuan yang tidak mempunyai wali dari nasab.

Terdapat beberapa situasi di mana wali hakim boleh digunakan;

Pertama: Tidak Ada Wali Nasab.
“Bagi pengantin perempuan yang tidak mempunyai wali nasab seperti mereka yang baru memeluk Islam dan tiada saudara-maranya yang memeluk Islam, atau perempuan yang tidak mempunyai wali langsung, maka wali hakim yang akan menjadi wali dalam perkahwinannya.”

Rasulullah saw bersabda:
Sultanlah menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali (Riwayat Al-Khamsal).

Kedua: Anak Tidak sah Taraf Atau Anak Angkat.
Anak tidak sah taraf atau anak luar nikah ialah anak yang lahir sebelum adanya perkahwinan yang sah. Sekiranya anak yang tidak sah taraf itu perempuan dan semasa dia berkahwin maka walinya ialah wali hakim. Begitu juga anak angkat. Jika anak angkat itu berasal dari anak tidak sah taraf maka walinya adalah wali hakim kerana anak itu dianggap tidak mempunyai wali nasab.

Sekiranya anak angkat itu berasal dari bapa yang sudah atau keluarga yang sah, maka walinya ialah berdasarkan susunan atau tertib wali yang ada, bukannya bapa angkat.

Ketiga: Wali Yang Ada Tidak Cukup Syarat.
Sekiranya wali aqral: tidak mempunyai cukup syarat untuk menjadi wali maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali Ab’ad mengikut tertib wali.

Syarat-syarat sah menjadi wali ialah:
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal – Orang gila, mabuk dan orang yang sangat bodoh tidak sah menjadi wali.
4. Lelaki
5. Adil
6. Merdeka.

Sekiranya satu-satunya wali yang ada tidak itu tidak juga cukup syarat dan tidak ada lagi wali yang lain, maka bidang kuasa wali itu berpindah kepada wali hakim.

Keempat: Wali Aqrab Menunaikan Haji Atau Umrah.
Dalam kitab Minhaj Taibin dalam bab Nikah menyatakan jika wali aqrab menunaikan haji atau umrah atau maka hak walinya terlucut dan hak wali itu juga tidak berpindah kepada wali aqrab tetapi hak wali itu berpindah kepada wali hakim.

Demikian juga sekiranya wali aqrab itu membuat wakalah wali sebelum membuat hajin atau umrah atau semasa ihram maka wakalah wali itu tidak sah. Rasulullah s.a.w. bersabda:

Orang yang ihram haji atau umrah tidak boleh mengahwinkan orang dan juga tidak boleh berkahwin. (Riwayat Muslim).

Oleh yang demikian, jika seseorang perempuan yang hendak berkahwin, hendaklah menunggu sehingga wali itu pulang dari Mekah atau dengan menggunakan wali hakim.

Kelima: Wali Enggan.
Para Fiqaha sependapat bahawa wali tidak boleh enggan untuk menikahkan perempuan yang dalam kewaliannnya, tidak boleh menyakitinya atau melarangnnya berkahwin walhal pilihan perempuan itu memenuhi kehendak syarak.

Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yaser, ia berkata:
“Saya mempunyai saudara perempuan, Ia dipinang oleh seorang pemuda yang mempunyai pertalian darah dengan saya. Saya kahwinkan perempuan itu dengan pemuda tersebut, kemudian diceraikan dengan talak yang boleh dirujuk.”

Perempuan itu ditinggalkan sampai habis idahnya. Tidak berapa lama kemudian, pemuda itu datang lagi untuk meminang, maka saya jawab, :”Demi Allah, saya tidak akan mengahwinkan engkau, dengan dia selama-lamanya.”

Peristiwa ini disampaikan kepada Nabi s.a.w. Berhubung dengan peristiwa ini, Allah s.w.t. menurunkan ayat Al-Quran:

2_232

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kahwin dengan bakal suaminya.” (Al-Baqarah: 232).

Dalam sebuah hadis yang lain dinyatakan:
Ada tiga perkara yang tidak boleh ditangggungkan iaitu: Solat, bila telah datang waktunya, janazah bila telah terlantar dan wanita janda yang telah bertemu jodohnya. (Riwayat At-Timizi dan Hakim).

Oleh yang demikian, perbuatan wali menghalang atau enggan menikahkan wanita tanpa ada alasan syarak adalah dilarang dan dianggap satu tindakan yang zalim kepada wanita itu.

Menurut Jumhur Fuqaha (Shafi’e, Maliki dan Hambali) apabila wali aqrab enggan menikahkan pengantin perempuan, maka wali hakimlah yang menikahkannya. Rasulullah s.a.w bersabda:

Kalau wali-wali itu enggan maka Sultan atau hakim menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali. (Riwayat Abu Daud dan At-Tamizi).

Dalam kes Azizah bte Mat lawan Mat bin salleh (1976, Jld.11.1JH) mengenai wali enggan di Mahkamah Kadi Perlis, Yang Ariff telah memutuskan, perempuan itu berhak mendapat wali Raja atau hakim untuk berkahwin.

Kadi ketika memutuskan kes itu menyatakan:“Berdasarkan kepada hukum syarak, apabila seseorang wali itu tidak mahu mewakilkan nikah anaknya kerana enggan atau berselisih faham, maka bolehlah dinikahkan perempuan itu dengan wali hakim atau wali Raja dengan alasan:

Pertama : Daripada Aishah r.a. Nabi s.a.w tc bersabda:
“Jika mereka berselisih, maka Sultan atau Rajalah wali bagi orang yang tidak ada wali.” (Riwayat Abu Daud, Ahmad dan At-Tamizi).

Kedua: Rasulullah s.a.w. bersabda:
Kalau datang kepadamu lelaki beragama dan berakhlak baik, maka nikahkanlah ia. Jika kamu tidak melakukannya, nescaya akan terjadi fitnah dan kerosakan yang besar.(Riwayat At-Tamizi).

Ini bermakna wali yang enggan menikahkan seseorang perempuan tanpa alasan munasabah mengikut syarak, maka hak wali itu berpindah kepada wali hakim.

walinasab

About these ads

30 Responses to :: HUKUM NIKAH :: WALI HAKIM- Dibolehkan dlm Situasi Tertentu

  1. NATASIA MAIZA berkata:

    waalaikumsalam….

    Nak, kamu seusia anak bunda yang perempuan… Bunda senang dengan niat baik kalian mau menikah dan menghindarkan dosa…tetapi… sebelum kamu membuat keputusan sepihak… biar bunda jelaskan dlu segala sesuatunya bar kamu mengerti…

    Nak, terlanjur berdosa besar dengan melakukan zina, obatnya cuma satu – TAUBAT NASUHA yakni, berjanji untuk tidak melakukannya lagi dan berubah kepada yang lebih baik…

    kedua… pernikahan… pernikahan diusia dini, memang tidak ada yang mempertikaikan izinnya.. boleh-boleh saja… tetapi, sekali lagi… bunda mau kamu berfikir tentang tujuan pernikahan… dan kewajiban menikah…

    tujuan pertama adalah kerana ALLAH SWT.. dan tujuan ini hanya digapai oleh mereka yang memeang sudah siap untuk menikah… contohnya, ia diutamakan utk orang yang merdeka. maksud bunda, orang yang memang menjalin hubungan seara baik-baik, berkemampuan memberi nafkah lahir bathin utk pasangan juga, berkemampuan mendidik serta mengayomi….

    pernikahan bukan hanya karena menghalalkan seks / perhubungan intim antara 2 manusia nak…

    memang kalian bleh menikah, tapi pikirkan sekolah kamu nak. seorang wanita, harus punya pendidikan yang baik, pekerjaan… supaya klo segala sesuatu berlaku pada esok hari, tidak ada sesal, dan sekurang2nya kamu tidak akan pernah hidup dijalanan…

    Cinta itu hanya sesaat nak… apabila menikah, semua keburukan pasangan akan terlihat jelas… dan kemanisa serta cinta itu berubah menjadi tanggungjawab yang sangat besar… mahukah kamu mengerti itu nak?

    Kalau bunda, inilah saran dan nasehat bunda….
    – dengarlah perintah ayah yang merupaka wali kamu nak… ayah berhak keatas kamu seutuhnya… karena kamu anak perempuannya, dan dia bertanggungjawab penuh keatas diri kamu… Ayah pastilah berfikir panjang soal pernikahan… dengan siapa kamu mneikah.. apa akan terjadi dengan sekolah kamu… bagaimana kamu bisa mengayomi rmh tangga dengan usia sedini ini.. apa akan terjadi seandainya pernikahan ini bertahan cuma sebentar… semua itu difikirkan ayah karena mau kamu menjadi anak sholeh dan berguna untuk keluarga serta agama…

    janganlah kamu berfikiran singkat dan bodoh nak… jangan terlena dengan keasyikan cinta dan sentuhan yang bukan menjadi rahmat buat kamu bahkan dosa besar… yang mengenal kamu adalah ayah dan obu kamu, bukan org luar nak… ingatlah … kamu perempuan nak.. tujuan dan perjalanan hidup kamu masih panjang…

    jangan sampai kamu kecewa dan menyesal dihujung nya nak…

  2. nik berkata:

    Aslmkm..Sy ingn btnye..sy brumor 13thun..tp ingn berkhwin
    ..ibu sy merestui..ayah sy mnggl..n wali jtuh pd abg sy..die tdk meizinkn..sy pernah lakukn hbungn sulit dgn kekasih sy..die ingin mengjak sy brkhwin krn tdk mau trus mlalukn dosa..tlg sy..sy buntu..

  3. NATASIA MAIZA berkata:

    Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh…

    Dari saat ibu anda menikah sampai dengan usia kelahiran anda, apakah tepat perhitungannya 37 minggu atau apkah kurang/lebih dari itu?

  4. mega berkata:

    assalamualaikum
    saya akan menikah 1 bulan lagi.
    tetapi saya baru mendapat kabar dari ibu saya, bahwa ibu dan ayah saya 2 hari sebelum hari pernikahan mereka, telah melakukan hubungan.
    dan setelah menikah, ibu saya langsung mengandung saya.
    namun, 9 bulan pernikahan mereka sama dengan usia kehamilan ibu saya.
    jadi, ibu saya khawatirkan bahwa kehamilan nya sudah masuk sebelum hari pernikahan mereka.
    saya ingin bertanya, apakah nanti saat saya menikah harus dengan wali hakim atau ayah saya sendiri?
    karena, saya dan pasangan sangat terkejut dan tidak ingin pernikahan kami oleh wali hakim.
    tolong bantu saya, agar tidak ada keraguan atas semua ini.
    terima kasih.

  5. mega berkata:

    assalamualaikum
    saya berencana menikah satu bulan lagi dengan pasangan saya.
    tapi, ibu saya tiba2 memberitahukan rahasia bahwa beliau telah melakukan hubungan dengan bapak kandung/ bapak saya saat ini 2 hari sebelum hari pernikahan.
    namun karena ibu saya dalam masa subur, beliau langsung mengandung saya.
    beliau meragukan atas kelahiran saya, di khawatirkan telah terjadi saat hubungan 2 hari sebelum hari pernikahan tersebut.
    saya ingin bertanya, bagaimana baik nya hukum dalam perkawinan saya nanti, apakah harus dengan wali hakim?atau boleh dengan ayah kandung saya ini?
    karena ibu saya, terlebih saya dan pasangan menjadi resah karena ini.
    terima kasih, mohon bantuan info nya.

  6. NATASIA MAIZA berkata:

    Waalaikumsalam…

    Malaysia mempunyai struktur pemerintahan agama yang baik dan mendekati sempurna dimata saya.

    Kementerian/Majlis Agama Negeri melantik Imam berpendidikan tinggi dan bertauliah utk bekerja sbg org yg dirujuk dlm perihal agama dan nikah kahwin di setiap masjid di daerah2.

    Sewaktu orangtua (ayah) pengantin perempuan menyerahkan file yg berisi surat izin menikah kepada Imam sebelum majlis akad nikah, pertama2, Imam pasti menanyakan status pernikahan orgtua & kelahiran pengantin perempuan. Jika tdk ada sbrg masalah, Imam akn bertanyakaan kpd orgtua, apakah ayh pengantin mau menikahkan sendiri anaknya atau mu di wakilkn kpd Imam sahaja. Namun jika ternyta pengantin perempun lahir sbg Anak Tidak Sah Taraf, Otomatis pengantin perempuan tersebut dinikahkan oleh Imam yg berwajib sebagai hakim karena Anak Tidak Sah Taraf tidak memiliki wali dalam pernikahan.

  7. NATASIA MAIZA berkata:

    Waalikumsalam Linda…

    Linda, kamu jgn khawatir..

    Lengkapkan semua form dan submit ke Majlis Agama, ceritakn semua permasalahan itu kepada pihak Majlis Agama, biasanya mereka akan mengistiharkan perkara tersebut lewat media dlm jangkmasa yg ditentukan, seandainya tidak ada khabar dari pihak ayah kandung Anda, InsyAllah mereka akan mengatur siapa yg akan menjadi wali Anda.

    Jangan pernah berfikir bahwa Majlis Agama tidak akn membantu, mereka akan membantu Anda.

    Jangan bimbang.

  8. اميرالله berkata:

    asalamualaikum,,,

    kebiasaan yang berlaku dimalaysia ialah hakim yang menikahkan perempuan tersebut sedangkan ayahnya ada didalam majlis tersebut,,,,adakah sah pernikahan ini?

  9. linda berkata:

    Assalamualaikum..
    Sy hendak brtanya..sya ingin bnikah xlama lg..mslh skrg adalah sy xperna bjumpa dgn ayah kndung sya krana kmi tlah ditinggalkn sejak sy berusia 4 bulan lg..sejak otu tiada khabar tentang ayah kandung sya..sy sudah berusaha mncarinya nmun hingga kini xdpt..klga sblh ayah kndung jg xdpt dhbungi..sy mmpunyai abg kandung..adakah abg kandung sy bole mnjadi wali atau sy prlu mnggunakan wali hakim..ada sahabt mmberitahu abg sy xbole mnjadi wali krana status ayah kndung yg x dktahui sama ada masih hidup atau suda mninggal dunia dan saya kna mnggunakan wali hakim..abang hanya bole mnjadi wali skiranya ayah kndung tlah dktahui mninggal dunia..mohon bri sdikit pnerangan..terima kasih

  10. NATASIA MAIZA berkata:

    janganlah gile karena cinta nurul,

    cinta itu menuntut manusia untuk menambah kecerdasan dengan memilih yang hitam dan putih, bukan memilih kehancuran atau kerosakkan.

    jadikan cinta sebagai panduan untuk memilih jalan yang benar bukan jalan singkat yang memudharatkan.

    semoga nurul bisa membezakan segala sesuatunya mengikut akal sehat.

  11. nurul aqilla berkata:

    Ka ade bce saye punye komen x, tlong bg jawan yew sye xtau nak mcm mne… Klau mcm ne blh jd gle disebabkan cinta

  12. NATASIA MAIZA berkata:

    Waalaikumsalam Wr Wb…

    Liza, percintaan memang terkadang berakhir dengan airmata walaupun ia datang dengan raksa keindahan yang bersalut bahagia…
    Namun, orangtua pasti mahukan yang terbaik buat anak-anaknya, walaupun terkadang terlalu pahit tuk di terima. Bagi orangtua, bukan saja agama yang bakal membawa kebahagiaan buat anaknya, tapi materi dan kesenangan tuk anaknya dimasa depan. Bukankah tuk membeli beras dan perlengkapan rumah kita tidak bisa membelinya dengan cinta, tapi kita buth uang. Walaupun uang bukanlah segalanya namun dizaman ini segalanya butuh uang. Itulah yang di pikirkan oleh kedua ortu Anda. Dimana mereka mendambakan kesenangan dan kebahagiaan di hari depan buat anaknya.

    Namun,
    Liza pasti mengatakan bahawa Cinta dan kesholehan pasangan yang Liza idamkan sekarang ini adalah sumber bahagia dan kesenangan buat Liza di masa hadapan. Ingat satu perkara, bahwa kehidupan rumahtangga itu tidaklah seindah yang Liza bayangkan. Banyak sekali ujian menuju ke jalan Allah itu Liza. Bukan semudah kata-kata.

    Manusia bisa berubah Liza, dan semua itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu fahamkan baik-baik, kalau Cinta sebelum menikah ini adalah keindahan kalian, tetapi apabila menikah nanti cinta pada laki-laki akan berubah menjadi “tanggungjawab” dan pada wanita berubah menjadi “setia” itu bentuk “prove” dari kata cinta yang sebenar…

    LOVE IS NOT HOW MUCH YOU SAID IT THROUGH, BUT HOW MUCH YOU CAN PROVE THAT ITS TRUE

    Pendapat saya cuma 1 :

    CINTA MEMANG HARUS DIPERJUANGKAN TAPI TIDAK TUK DIPAKSAKAN APALAGI DIGUNAKAN TUK MELANGGAR BATASAN YANG TERDAPAT DALAM KAMUS CINTA.

    Seharusnya kedua belah pihak, baik Liza maupun orang tua introspeksi diri. Jangan egois. Sedini mungkin, jalin hubungan yang dekat antara anak dan orang tua. Orang tua yang tentunya sudah berpengalaman dalam berumah tangga, sangat ideal dijadikan panutan dan konsultan dalam memilih jodoh. Mungkin, orang tua kita menjalani rumah tangga era kuno, tapi bukankah dasar kehidupan rumah tangga tak berubah sepanjang masa? Dari dulu yang namanya menikah ya begitu, janji setia sehidup-semati antara laki-laki dan perempuan, lalu masing-masing menjalankan peran sesuai kodratnya dengan pembagian hak dan kewajiban yang jelas.

    Ingatlah, salah satu maksud dari pernikahan dalam Islam ialah untuk mendapatkan ketentraman dan kedamaian (QS. 30:21); ketentraman antara suami istri dan juga ketentraman keluarga besar keduanya. Apalah artinya merasa tentram dengan pasangan pilihannya, tapi di sisi lain tidak tentram dengan orang tua, hanya disebabkan orang tua tidak setuju dengan pilihan masing-masing nantinya.

    Untuk itu, alangkah indahnya ketika akan memilih calon pasangan hidup, terlebih dahulu Liza musyawarahkan dulu dengan keluarga, terutama orang tua. Sejak awal buatlah kesepakatan dengan orang tua mengenai kriteria/kualifikasi calon pasangan yang dikehendaki. Tentu saja, baik anak maupun orang tua tidak akan muncul konflik jika sama-sama menyandarkan pada Islam dalam memilih kriteria pasangan hidup, yakni yang baik agama dan akhlaknya. Disini ukuran “baik” agamanya ini perlu dipertegas. Apakah sekadar shalat sudah dianggap baik?

    Selain itu, sebaiknya Liza sebagai anak lebih banyak mengalah. Bagaimanapun, orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Liza mungkin saja baru mengenal calon suami dalam hitungan tahun, bulan, atau bahkan minggu. Tapi orang tua telah mendampingi Liza sejak dalam kandungan hingga nanti sepanjang hayat.

    Tegakah Liza merusak silaturahmi dengan orang tua demi mempertahankan calon pasangan yang relatif baru dikenal? Pasti Liza bisa berfikir dengan baik.

    Boleh jadi, ketidaksetujuan orang tua justru membawa berkah bagi Liza nantinya. Tentu dengan catatan, alasan orang tua tidak merestui anak dibenarkan secara syar’i. Seperti orang tua memandang ada calon lain yang dinilai lebih shalih, lebih bagus akhlaknya, lebih menjamin masa depan anaknya, dll. Yakinlah, jika jodoh tak akan lari ke mana. Kalau memang orang tua belum merestui, mungkin memang itu bukan pilihan terbaik dari Allah SWT buat Liza.

  13. Lizawati berkata:

    Assalamualaikum Natasia Maiza,

    Saya liza ingin bertanyakan pendapat dari Natasia. Saya dan pasangan sudah merancang untuk berkahwin. Tetapi rancangan kami tidak dipersetujui oleh kedua ibubapa saya. Saya memilih pasangan saya adalah atas faktor beliau seorang yg sentiasa menjaga solat, hormat pada kedua ibubapa saya walaupun sering dihina, malah sentiasa ingatkan tentang hal2 agama dan dia juga seorang yang berbudi pekerti baik. Antara alasan penolakan kedua ibubapa saya;

    1) Saya seorang engineer sedangkan pasangan saya hanya seorang technician berkelulusan SPM. Jika saya berkahwin dengan pasangan kami, ibubapa saya sudah boleh menjangkakan yang kami akan hidup susah.
    2) Pasangan saya berketurunan jawa manakala saya berketurunan minang, jadi keluarga mahukan saya berkahwin dengan pasangan yang bukan dari keturunan jawa utk menjaga keturunan minangnya.
    3) Ayah pada pasangan saya merupakan seorang yang buta (akibat demam panas) dan adiknya mengalami masalah buah pinggang. Jadi, pada kedua ibubapa saya, ini bukanlah keturunan yang baik dan dikhuatiri saya juga akan mendapat seorang anak yang buta atau sakit buah pinggang.

    saya telah cuba beberapa kali berbincang dgn kedua orang tua saya, tapi masih tiada perubahan. malahan mereka mengatakan jika saya berkahwin juga dengan pasangan saya, jangan sesekali saya jejak kubur mereka dan saya adalah anak derhaka.

    Soalan saya, adakah dengan berkahwin dengan pilihan saya ini, saya dikategorikan sebagai anak derhaka? apakah yang perlu saya lakukan lagi?ibu saya juga enggan menyerahkan salinan surat perakuan nikah mereka untuk saya mengisi borang permohonan nikah. Apakah yang patut saya lakukan?Patutkah saya meneruskan niat saya atau mengalah dengan alasan2 seperti diatas?

  14. NATASIA MAIZA berkata:

    WAALAIKUMSALAM… menggunakan wali hakim atau pun tidak akan di putuskan oleh Majlis Agama bahagia nikh kawin,,,,,

    Hanya bisa di gunakan dalam situasi tertentu sahaja… tolong laporkan dan minta bantuan dari pihak majlis agama… mereka akan membantu

  15. mohd aswan berkata:

    assalamualaikum saya ingin berkhwin dgn seorg perempuan tapi keluarga perempuan tdk bersetuju .jadi teman sya perempuan ingin mengunakan wali hakim ..boleh kh .

  16. NATASIA MAIZA berkata:

    w/salam rizal…

    Jawaban saya TIDAK. Pernikahan boleh berlansung di Mesjid. MIntalah Izin dr pihak agama setempat anda dan nyatakan kekhawatiran anda tersebut.

    WALI HAKIM tidak ada salahnya, asalkan tepat penggunaannya.

    Semoga membantu

  17. rizal berkata:

    salam.. saya inginberkhawin dan pasangan saya (perempuan) menggunakan wali hakim.. adakah apabila menggunakan wali hakim nikah hanya boleh dilakukan di pejabat agama? tidakkah boleh dilakukan di masjid seperti org lain? saya risau pihak keluarga memandang serong pengertian wali hakim ni… bantu saya….

  18. NATASIA MAIZA berkata:

    Waalaikumsalam… Boleh saya panggil Zue agaknyer.

    Okey… macam ni zue…apa yang zue kena buat adalah mendapatkan persetujuan ayahanda sebagai wali yang sah, namun begitu, apabila ia bermasalah dan rumit, zue dan pasangan pergilah urus semua prosedur pernikahan, setelah itu mintalah pihak pejabat agama untuk membantu menmda[atkan persetujuan ayah. insyAllah, kalau niat kita baik, pasti Allah akan kasi jalan. Yang penting berusaha, doa, tawakkal. selebihnya serahlah kat Allah. Kita tak mampu buat, mintalah kat Allah. Allah pasti bantu. InsyAllah.

    Let Do OUR best… Let’s Allah do the REST… (tak mungkin kita boleh buat semua tanpa campurtangan Allah, Jangan belakangkan Allah dalam segala hal)

    kunjungi blog terbaru saya… terima kasih

    http://loveinglass.wordpress.com/

  19. zuraidah berkata:

    Assalamualaikum… sy ingin menanyakan soalan… sy berniat untuk bernikah bersama pasangan untuk jadi yang halal tetapi ayah sy tidak merestui niat kami atas alasan sy belum habis ijazah…adakah sy boleh menggunakan khidmat wali hakim..??

  20. NATASIA MAIZA berkata:

    waalaikumsalam…

    innalillahi wainna ilaihi rojiun…

    siti zahirah, persetujuan dr ayah kandung bukan saja restu, tapi syarat sah menikah harus ada wali. ayah awak itu adalah wali.
    pernikahan awak tak sah kerana menikah tanpa persetujuan wali. sedangkan itu merupakan syarat sah nikah.

    siti boleh baca selengkpnya disini : http://munajahcinta.wordpress.com/2013/03/18/syarat-sah-nikah-rukun-nikah/

    astaghafirullah… pernikahan adalah ikatan yang suci siti zahirah.. kalau pasangan anda menggunakan dadah (haram) bagaimana dia menjadi imam yang baik buat anda…? dan bagaimana dia menjadi tuntunan yang baik buat anda dan anak anak anda kelak ? fikirkan dengan baik.

    semoga siti zahirah selalu dalam lindungan Allah, istigfarlah kalau anda memang berada dalam kekhilafan yang besar.
    keluarlah dari tempat anda, minta ampunah kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha Penyanyang Lagi Maha Pengampun.
    Minta ampunlah kepada orang tua anda, kerana redha Allah adalah redha orangtua..

    wallahu alam bishowabb…

    semoga bermanfaat

  21. NATASIA MAIZA berkata:

    fatmawati…

    nama awak cantik sekali :-) mudah2an awak seperti nama ini.

    urutan wali ada disini : http://munajahcinta.wordpress.com/2009/07/29/wali-hakim-dibolehkan-dlm-situasi-tertentu/
    silakan fatmawati membacanya.

    wali dalam pernikahan merupakan urutan salasilah dari bapa..

    semoga bermanfaat

  22. fatmawati berkata:

    sa’ wanita berumur 24 thn, sa’ tdk perna liat bpk mulai dri dhamilkanx sa’ smpai skarang, trus sa’ pux sorng kaka laki2 tpi lain bpk dngan sa’, bgmn dngn wali sa’ ntix, apkah kaka sa’ bisa jdi wali sa’ ??? makasi atas jawabanx

  23. siti zahirah berkata:

    Assalamualaikum..sy ingin brtanyakn pndapat…sy telah betnikah di thailand…sathu sya cuma ibu shaja yg mnyatakn pd suami sy yg dia tdak bersetuju utk kmi berkhwin…dn suami sya tidak mendapatkn persetujuan atau jawapan dr ayah sya yg mrupakan wali sya dn masih hidup…adakah perkahwinan sya sah dr segi agama skiranya restu ayah sya tidak thu sama ada ya atau tidak…dn soalan kdua sy…adakah sebuah pernikahan itu sah skiranya pasangan itu tidak suci seperti brrada dlm pengaruh dadah ttapi tidak menghayalkn dn waras…harap dpt bntu meleraikn persoalan sy..trima kasih..

  24. NATASIA MAIZA berkata:

    Waalaikumsalam warah matullahi wabarakatuh…
    Dear Bella…

    innalillahi wainna ilaihi rojiun…
    sungguh Allah SWT berfirman :

    Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-’Alim Al-Hakim sebagai berikut:

    1. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam:

    Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.

    Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal ‘iyadzu billah- mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa terkutuk ini.

    Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya, tidak boleh dinikahi sampai lepas ‘iddah[1]nya. Dan ‘iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

    “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

    Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

    وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

    “Dan janganlah kalian ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya.” (QS. Al-Baqarah: 235)

    Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas ‘iddah-nya.” Kemudian beliau berkata: “Dan para ‘ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa ‘iddah.”

    Lihat: Al-Mughny 11/227, Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348, Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156.

    Adapun perempuan hamil karena zina, kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya. Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-’Alim Al-Khabir, masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak, dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para ‘ulama.

    Secara global para ‘ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina.

    Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista.

    Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para ‘ulama:

    Satu: Disyaratkan bertaubat. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah, Ishaq dan Abu ‘Ubaid.

    Dua: Tidak disyaratkan taubat. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik, Syafi’iy dan Abu Hanifah.

    Tarjih

    Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat, apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan.”

    Tarjih di atas berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

    الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

    “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin.” (QS. An-Nur: 3)

    Dan dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata:

    أَنَّ مَرْثَدَ بْنَ أَبِيْ مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَحْمِلُ الْأَسَارَى بِمَكَّةَ وَكَانَ بِمَكَّةَ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُقَالُ لَهَا عَنَاقٌ وَكَانَتْ صَدِيْقَتَهُ. قَالَ: فَجِئْتُ إِلىَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْكِحُ عَنَاقًا ؟ قَالَ: فَسَكَتَ عَنِّيْ فَنَزَلَتْ: ((وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ)) فَدَعَانِيْ فَقَرَأَهَا عَلَيَّ. وَقَالَ: لاَ تَنْكِحْهَا

    Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) ‘Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, Saya nikahi ‘Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam, maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia.” (Hadits hasan, riwayat Abu Daud no. 2051, At-Tirmidzy no. 3177, An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269, Al-Hakim 2/180, Al-Baihaqy 7/153, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul)

    Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

    التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

    “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya)

    Adapun para ‘ulama yang mengatakan bahwa kalimat ‘nikah’ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima’ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima’ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat, ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115.

    Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84, Al-Mughny 9/562-563 (cet. Dar ‘Alamil Kutub), dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585.

    Catatan:

    Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan condong ke pendapat ini.

    Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain, beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur’an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?”

    Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Yaitu dengan lima syarat:

    1. Ikhlash karena Allah.

    2. Menyesali perbuatannya.

    3. Meninggalkan dosa tersebut.

    4. Ber‘azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya.

    5. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan.

    Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Wallahu A’lam.

    Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah.

    Para ‘ulama berbeda pendapat apakah lepas ‘iddah, apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak, ada dua pendapat:

    Pertama: Wajib ‘iddah.

    Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry, An-Nakha’iy, Rabi’ah bin ‘Abdurrahman, Imam Malik, Ats-Tsaury, Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih.

    Kedua: Tidak wajib ‘iddah.

    Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan Abu Hanifah, tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal, yaitu menurut Imam Syafi’iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima’ dengannya setelah akad, apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima’ dengannya, apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima’ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil.

    Tarjih

    Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib ‘iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

    1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos:

    لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعُ وَلاَ غَيْرُ حَامِلٍ حَتَّى تَحِيْضَ حَيْضَةً

    “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.” (HR. Ahmad 3/62,87, Abu Daud no. 2157, Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212, Al-Baihaqy 5/329, 7/449, Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. 1973 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 307 dan di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Syarik bin ‘Abdullah An-Nakha’iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 187)

    2. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَسْقِ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ

    “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.” (HR. Ahmad 4/108, Abu Daud no. 2158, At-Tirmidzi no. 1131, Al-Baihaqy 7/449, Ibnu Qoni’ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217, Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot 2/114-115, Ath-Thobarany 5/no.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 2137)

    3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

    أَنَّهُ أَتَى بِامْرَأَةٍ مُجِحٍّ عَلَى بَابِ فُسْطَاطٍ فَقَالَ لَعَلَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُلِمَّ بِهَا فَقَالُوْا نَعَمْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ.

    Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.”

    Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil, apakah hamilnya itu karena suaminya, tuannya (kalau ia seorang budak-pent.), syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent.) atau karena zina.”

    Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib ‘iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syinqithy, Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Wallahu A’lam.

    Catatan:

    Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan, maka ini ‘iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla:

    وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

    “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

    Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya, ‘iddahnya diperselisihkan oleh para ‘ulama yang mewajibkan ‘iddah bagi perempuan yang berzina. Sebagian para ‘ulama mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Dan ‘ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan ‘iddah perempuan yang ditalak.

    Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry di atas. Dan ‘iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur’an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu:

    وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوْءٍ

    “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid).” (QS. Al-Baqarah: 228)

    Kesimpulan Pembahasan:

    1. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu, bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas ‘iddah-nya.

    2. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas ‘iddah adalah sebagai berikut:

    • Kalau ia hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.

    • Kalau ia belum hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Wallahu Ta’ala A’lam.

    Lihat pembahasan di atas dalam: Al-Mughny 9/561-565, 11/196-197, Al-Ifshoh 8/81-84, Al-Inshof 8/132-133, Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349, Raudhah Ath-Tholibin 8/375, Bidayatul Mujtahid 2/40, Al-Fatawa 32/109-134, Zadul Ma’ad 5/104-105, 154-155, Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585, 847-850.

    2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para ‘ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242.

    Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa ‘iddah?”

    Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama.

    Jumhur (kebanyakan) ‘ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas ‘iddah-nya.”

    Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi’iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar ‘Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas ‘iddah. Wal ‘Ilmu ‘Indallah.

    Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr).

    3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima’ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut.

    Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan.

    Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.

    Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

    أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتُحِلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

    “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi’iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam Al-Umm 5/13,166, 7/171,222, ‘Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa’id bin Manshur dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya’la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 4074, Al-Hakim 2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Al-Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu ‘Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa` no.1840)

    Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa ‘iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya.

    Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

    Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan mahar atasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

    وَآتُوا النِّسَاءَ صُدَقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

    “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4)

    Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً

    “Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24)

    Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A’lam.

    Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105.

    Footnote:

    [1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “‘Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.”

    Wallahu ‘alam bishowab…..

  25. myrabella berkata:

    assalamualaikum . .
    saya ingin bertanya . .sy bru brumur 20 tahun . .ibu say da mninggal…skrang sy ada ayah je… sy ingin mnikah krana sy da hamil 3 bln . .ayah sy x nak mnikahkn sy krana tlalu marah , ,apakah sy blh menggunakn wali hakim…ayah sy juga da x pnah nk pduli khidupan sy . .tlong la sy , ,sy perlu mnikah krana tkot bila nk bsalin nt jd susah . .

  26. NATASIA MAIZA berkata:

    waalikumkumsalam…
    wali dalam pernikahan tidak terhitung abang sulung atau abang yang ke dua…
    yang penting, mengikut urutan perwalian yang benar…

    1- bapa kandung terus kemudian datuk (ayahnya bapa kandung) terus moyang (iaitu ayahnya datuk) kemudian baru adik beradik lelaki seibu sebapa…

    menghormati abang yang pertama sebagai wali ya sah-sah saja… kalau bisa di mushawarahkan dengan kepala dingin itu lebih baik lagi… lebih baik memelihara yang sedia ada dari pada memecah belahkan…

  27. eisya berkata:

    assmkm..
    sy ingin bertanya,sy ada seorang kawan,beliau merupakan anak bongsu prmpuan dan mempunyai 2 org abg ,dan tiada ayah & ibu (meninggal) beliau ingin berkahwin tetapi abg yg sulung tidak setuju dan tidak mahu menjadi wali ,boleh kah abg nya yg kedua mewalikan nya???? dan jika dia mahu menyaman abg nya kerana tidak mewalikan nya adakah boleh???

  28. Amalina berkata:

    salam..ingin bertanya, sejak saya lahir, saya sudah diserahkan pada keluarga angkat. keluarga angkat saya, alhamdulillah, baik. saya bakal berkahwin insyaAllah.soalan saya, dari kecil, keluarga angkat saya tidak pernah tahu tentang bapa saya, dimana dia dan siapa dia. sekarang umur saya 20 tahun.dan sepanjang tempoh itu, dia langsung ghaib, namanya juga saya tidak tahu. ibu kandung saya pula lesap, bukan tiada ikhtiar nak cari, tapi seolah2 tiada khabar. keluarga asal saya juga saya tidak tahu. saya bukanlah anak luar nikah. tapi, saya tidak tahu pasal ahli keluarga kandung.adakah saya layak gunakan wali hakim?
    dan bagaimana caranya?

  29. NATASIA MAIZA berkata:

    salam wina,

    seorang perempuan walinya adalah ayah. pastinya ayah anda tahu akan struktur perwalian dalam islam. saya berpedapat wina bisa saja berkonsultasi dengan pihak BERKUASA AGAMA di tempat anda tentang ini.

    tentang persetujuan bonda anda dengan pasangan yang anda pilih… saya peraya bonda anda pasti mempunyai alasan yang waja tentang ini. saya berharap wina memerhatikan alasan bonda dengan baik. mungkin saja bonda anda menginginkan cucu-cucunya juga berdarah arab seperti anda. saya juga memiliki darah keturunan arab, nah… sebenarnya saya tahu akan sebab dan alasannya, tapi saya mahu wina sendiri tanyakan kepada bonda… saya ingatkan wina, jangan memandang remeh akan alasan bonda kerana apa yang diberitahukan adalah benar adanya…

    wina seorang perempuan, pastinya seorang ibu menginginkan anaknya hidup bahagia dan brkecukupan. carilah waktu yang baik dan santai, pujuklah dan bicarakan ini baik2 dengan bonda. yakinkan bonda akan alasan anda memilih pasangan anda ini. saya percaya, tidak ada ibu yang bersikeras, sekeras-keras kerak nasi, direndam air akhirnya lembut juga…

    smoga anda berhasil…..
    niat yang baik, insyAllah berhujung dengan baik juga…

  30. wina berkata:

    mohon bantuanya..saya seorg wanita berumur 27thn saya memiliki darah keturunan timur tengah(arab).ibu saya tdk merestui pernikahan saya dg laki2 pilihan saya krn laki2 pilihan saya bukan keturunan arab.bapak saya masi hidup dan dia mensetujui laki2 pilihan saya cm yg saya takutkan dia me walikan saya ke kkk laki2 yg tertua sedangkan kkk laki2 saya tdk mendukung saya dia lbh mendukung ibu saya…
    apa saya bole mengunakan wali hakim?

    tolong bantuanny ya…:(

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Bengkel Sepeda Gowes

- SEPEDA GOWES -

PUISI SURGA

Sekadar Merekam Suara Hati

LOVE IS CINTA

.:: Karena CINTA Kita Selalu Ada ::.

Yogi Cahyadhi

I am what I am. If you don't like me, turn your head and walk away. My blog = MY RULES! || --- >

yuliartivk

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

ISLAM SYIAH

Meluruskan Pemahaman Tentang Islam Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asyariyah (Jakfariyah)

Aiendyu.com

Awalnya tentang semua rasa antara aku dan kamu, akhirnya berubah absurd

Didik Rahmadi

Aku menulis untuk ku ingat kembali

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Home Five

Selamat Datang , Silahkan Menikmati Yang Ada Di Sini !!!

Agnez Simple But Incredible

A fine WordPress.com site

Aku malu

Aku malu karena blog ini banyak kekurangan-nya

Grafik Malaysia for You

Rekabentuk Grafik Kreatif Perniagaan Anda!

ztech87 Studio

Rekabentuk Kreatif Anda!

Tentang Cinta (LOVE)

Kerana Cinta, Kita Wujud Di Dunia

Dunia Penyair ~ Himpunan Puisi Klasik Dan Moden Sepanjang Zaman

~ Koleksi Puisi Klasik Dan Moden Yang Segar Sepanjang Zaman ~

CINTA

.:: PerCINTAan & Pernikahan ::.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 117 other followers

%d bloggers like this: